Tergila-Gila Padamu

Namanya Citra, gadis belia umur 15 tahun, baru masuk kelas sepuluh, asal Kalimantan, tapi tinggal di kost dekat sekolahnya di Jakarta. Beberapa kata ku mulai dalam menulis halaman pertama di buku harian ku dengan memuji seorang gadis. Gadis cantik dengan kulit putih itu sudah sekian lama menjadi target penyelidikan saya. Di sini lah saya memulai kisah saya yang tergila-gila pada kehidupan yang gelap.
***
“Briptu Wahyu, bagaimana hasil penyelidikan mu selama ini?”, tanya atasanku. “Belum menemukan titik terang pak”, jawabku. Di sebuah warung kopi tempat biasa para polisi berkumpul meluangkan waktu, Pak Bambang menanyakan perkembangan hasil pengintaianku terhadap Citra, seorang gadis yang dicurigai sebagai pecandu narkoba. Saya sudah sebulan mengintai Citra, tapi belum menemukan hasil yang memuaskan, padahal saya sangat berharap bisa menangkap basah pengedar narkoba ketika bertransaksi dengan Citra.
***
Siang itu jam sekitar jam 2 (lewat) lewat, saya sengaja berdiri di depan kost sambil berpura-pura mencari pemilik kost untuk menanyakan apakah ada kamar kosong. Kebetulan pemilik kost tidak di tempat, jadi saya bebas masuk dan keliling di lorong-lorong sambil melirik-lirik pintu kamar kost yang tidak tertutup rapat. Tempat kost ini sangat bebas, pemiliknya jarang di tempat, dan bebas di kost oleh wanita maupun pria. Selama sebulan pengintaian, saya sudah tahu di kamar yang mana Citra kost, tapi hari ini cukup sepi, entah Citra ada di dalam kamar dan sedang tertidur ataupun belum pulang sekolah.
***
Selama penelusuran saya, Citra sepertinya anak baik-baik, tidak ada gerak-gerik mencurigakan yang menandakan dia adalah seorang pecandu narkoba. Jam dua lewat biasanya dia sudah pulang dari sekolah, cuma untuk hari tertentu saja Citra pulang agak sore karena mengikuti ekstra kulikuler. Lagian biasanya kalau Citra mau keluar dengan teman-teman sekolahnya, biasanya Citra pulang ke kost dahulu di antar temannya untuk berganti pakaian. Teman-teman dekatnya pun sudah saya selidiki dan tidak punya catatan buruk, tidak ada tanda-tanda mencurigakan.
***
Tumben hari ini saya tidak melihat Citra, apakah saya kecolongan? Mungkin siang ini saya akhiri dahulu, malam baru kembali saja. Berjalan keluar dari rumah kost, tak disangka saya bertemu dengan Citra di depan pintu rumah kost. Sebulan hasil penyelidikan saya tidak membuahkan hasil, akhirnya saya beranikan diri untuk menggunakan teknik pendekatan. “Maaf mbak, numpang tanya, di sini masih ada kamar kosong ga?”, tanya saya sekaligus mencegat Citra di depan kost. “Wah, kurang tahu mas”, jawab Citra yang seolah ingin menghindari saya.
Karena saya sudah tahu akan latar belakangnya, saya lalu pura-pura memelas, “Pemiliknya mana ya mbak, soalnya saya butuh banget tempat menginap”, tanpa curiga Citra pun jawab, “Gini saja, kalau saya ketemu dengan pemiliknya, nanti saya kasih tahu saja ya”. “Terima kasih mbak, ini nomer handphone saya, tolong sms saya ya mbak kalau ada kabar, soalnya saya merantau dari Kalimantan, di sini tidak punya kenalan”. Mendengar itu nampak Citra sedikit iba, “Iya mas, saya pasti kasih kabar”, saya tidak berani meminta nomer handphone-nya, cuma berharap Citra menghubungiku setelah ada kabar. “Tolong ya mbak, ada atau enggak kamarnya tolong kabari, entar saya kasih uang komisi”, kataku. “Mas, Kalimantan di mana nya?”, tanya Citra. “Palangkaraya mbak”, jawabku. “Loh, saya juga dari Palangkaraya loh”, balas Citra. “Wah, kebetulan sekali, kenalkan nama saya Wahyu, saya tinggalnya di Jalan Rajawali mbak, di sini lagi ngadu nasib”, saya coba memperkenalkan diri sambil mengajak Citra berjabat tangan. “Citra…”, dia menjawab perkenalan diri saya.
Kami tidak lama membahas kampung kami, karena saya tidak terlalu banyak persiapan mengenai kota itu, sehingga takut Citra bertanya lebih jauh. Seluk beluk Citra sudah banyak saya kumpulkan. Orang tua nyamasih di Palangkaraya, Citra dikirim ke sini untuk menuntut ilmu yang lebih baik. “Citra masuk dulu ya, soalnya baru pulang sekolah, mau istirahat dulu”, kata Citra, “Iya mbak, terima kasih ya”, sedikit tertolong karena saya asli lahir dan besar di sini, kalau Citra menanyakan hal yang lebih detail mengenai Palangkaraya, bisa-bisa ketahuan kebohongan saya.
***
Seperti biasanya ketika malam saya tetap melakukan pengintaian, nongkrong di warung kopi dekat kostnya Citra, sambil menunggu kabar dari Citra. ‘Mas, ada kamar kosong nih, pas ada pemiliknya malam ini, dia tunggu sampai jam 9 saja’, tiba-tiba sms masuk dengan isi demikian dari nomor yang tidak saya kenal. Ya siapa lagi kalau bukan Citra, segera saya balas, ‘Ok mbak, saya segera ke sana, gak enak nih numpang tempat kawan’. Sengaja saya pelan-pelan menghabiskan kopi pesanan saya baru jalan menunju ke sana agar tidak dicurigai kenapa cepat sampai.
***
“Ini Wahyu om, yang tadi Citra cerita lagi cari kamar kost”, Citra memperkenalkan saya kepada pemilik kost. Wajah pemilik kost sedikit garang, dengan badan yang tambun dan kumis yang tebal, sepertinya dia orang yang galak. Tapi selama ini sudah saya banyak menyelidiki kost ini, pemiliknya adalah Sadikin, seorang PNS, dia buka usaha kost untuk sambilan, entah dia kenal dengan wajahku atau tidak, tapi saya sering keliling sana sini, takut saja kalau dia menyadari kedokku. “Oh, pas ada satu sisa kamar kosong, jadi Wahyu mau ambil berapa lama?”, tanya pemilik kost. “Mungkin cukup lama om, soalnya saya mau cari kerja di sini, saya mungkin bayar tiga bulan dahulu ya om”, akhirnya kami transaksi untuk deal harga. Cukup murah, hanya lima ratus ribu untuk sebulan dengan fasilitas cukup lumayan. “Oya, saya minta fotokopi KTP ya”, pinta pemilik kost. “Besok boleh om? KTP saya ketinggalan tadi gara-gara buru-buru”, saya tidak berani mengeluarkan KTP asli saya karena takut terlihat Citra dengan identitas saya, rencananya saya akan ngulur untuk pelengkapan KTP ataupun terpaksa saya harus membuat fotokopian palsu.
***
Setelah ditunjukkan kamar kost yang saya sewa, saya pun segera pamit dengan pemilik kost dan juga Citra, saya pura-pura bilang mau ambil barang bawaan saya yang titip di rumah teman, agar mereka tidak curiga. Malam itu pun segera saya kemas beberapa pakaian saya dan bawa ke kamar kost, mulai malam ini saya akan bermalam di kamar kost ini. Semoga dengan begini bisa sedikit membantu saya memecahkan kasus ini.
***

“Kalau ada perlu bantuan, sms saja ya, siapa tau Citra bisa bantu”, pesan Citra sambil menunjuk kamarnya yang Cuma selisih dua kamar dari kamarku. “Iya mbak, terima kasih banyak nih”, jawab saya sambil menyodorkan sedikit uang yang seperti saya janjikan sebagai komisi sewa kamar kost. “Ah, ga perlu mas, Citra ikhlas kok bantuin mas”, kata Citra sambil tersenyum manis. Gadis belia ini sangat manis, usianya cukup terpaut jauh denganku, mungkin sekitar sepuluh tahun.
***
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, cukup bosan di dalam kamar kost, mungkin saya belum terbiasa, saya coba keluar untuk mencari angin. Keluar dari pintu lalu saya berjalan ke arah belakang mencari toilet, karena toilet terpisah dari kamar, jadi kost di sini dihitung murah, namun tidak perlu takut antri soalnya ada enam kamar mandi sekaligus toilet di sini. Samar samar di gelapnya malam terdengar suara desahan sangat jelas dari arah toilet ujung sebelah kiri, karena saya penasaran maka saya gunakan toilet sebelahnya, duduk jongkok sambil membuang hajat, saya coba lebih mendengar dengan jelas. Suara itu benar dari toilet sebelah yang tertutup rapat, desahan suara perempuan seperti sedang menikmati cinta. Mendengar desahan itu langsung membuat penisku bereaksi, langsung menegang kencang. Ku tempelkan telingaku ke dinding untuk mendengar apa ada percakapan lain, namun hanya desahan saja yang saya dengar. Terpaksa saya pun menyalurkan nafsu saya dengan mengocok penis saya di dalam toilet ini.
Antara tidak enak ketahuan serta rasa penasaran, saya cepat menyudahi kegiatan dalam toilet ini, cepat-cepat segera saya keluar dari toilet sebelum mereka lebih duluan. Karena penasaran, saya pun pura-pura untuk merokok di depan pintu kamar saya sambil sesekali ku intip ke arah toilet tadi, penasaran siapa yang ada di dalam sana. Namun belum sempat mengetahui siapa di balik toilet itu, tiba-tiba ada suara pintu terbuka dari kamar tak jauh dari sini, tepatnya kamarnya Citra.
“Loh mas, belum tidur?”, Citra kaget melihat saya nongkrong di depan pintu kamar kost. “Iya mbak, belum ngantuk nih. Mbak sendiri belum tidur?”, tanyaku. “Tadi baru selesai ngerjakan PR, agak sumpek jadi cari angin sebentar”, jawabnya. Lalu kami pun sepakat untuk jalan ke depan mencari warung yang masih buka, paling enggak mencari kopi untuk menemani rasa bete kami.
***
Cukup lama kami menghabiskan perbincangan di warung sambil ngopi, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua subuh, mata ku mulai mengantuk. Dari pendekatan ini, saya sedikit tertarik dengan Citra, dia gadis yang baik, periang, dan tidak sedikitpun seperti yang dicurigai selama ini. Mulai dari sini lah kami sedikit akrab, dan semakin akrab. Hingga akhirnya kami berpisah untuk kembali ke kamar masing-masing.
***
Seminggu di kost ini, saya semakin beradaptasi dengan lingkungan ini. Kost ini sering digunakan muda mudi untuk berpacaran, karena sangat-sangat bebas, ingin saya bongkar kost mesum ini, namun saya masih punya target lain, jadi saya pikir setelah kasus yang saya tangani selesai saja baru proses yang ini. Beberapa pemilik kamar sering membawa pasangannya untuk nginap, bahkan beberapa sampai menyewakannya ke orang yang membutuhkan ruangan untuk melakukan hubungan intim. Dan dari pemantauan saya, ada satu gadis yang sering mengajak pasangannya masuk ke toilet bersama-sama, dan jangan-jangan mereka lah yang kemarin saya dengar desahannya. Saya tidak mau menghiraukan mereka terlebih dahulu, saya harus memfokuskan ke Citra.
Semakin lama kami semakin dekat, saya pun semakin berani masuk ke kamar Citra dengan tujuan untuk mengetahui isi kamarnya, siapa tahu saya dapat menemukan sesuatu yang penting. Biasanya Citra memintaku membantunya mengerjakan PR sehingga saya bisa bermain-main ke kamarnya, namun selama ini saya belum mendapatkan sesuatu pun yang mencurigakan, hingga satu saat, akhirnya semua terpecahkan.
***
Suatu hari aku berkunjung ke kamar kostnya, namun karena ku ketuk pintunya tidak ada respon, maka aku beranikan diri untuk membukanya. Apa yang kutemukan sangat mengejutkan, Citra terkapar di tempat tidur, hanya menggunakan pakaian dalam, aku pun coba dekati karena takut terjadi sesuatu dengannya. Ternyata apa yang dicurigai terhadap dia itu semua nya benar, sekarang Citra sedang sakau, ia tidak sadarkan diri karena sedang ‘fly’. Sungguh sangat tragis, aku merasa sangat iba melihat keadaannya itu, dengan usia muda sudah terjerumus dalam dunia seperti ini. Segera kututup pintu kamar Citra, takut ada yang melihatnya. Niatku untuk mengambilkan selimut agar tubuh hampir bugilnya bisa tertutupi, namun semua itu buyar ketika penisku semakin mengeras melihat kemolekan tubuh Citra yang setengah telanjang itu, pikiranku melayang-layang, aku pun tak sanggup menahan semua nafsuku.
Aku kemudian duduk di samping Citra yang masih nge-fly, lalu kubuka resletingku untuk mengeluarkan penisku, ku kocok sambil memandangi tubuh Citra. Indah, jujur aku belum pernah mengalami hal seperti ini, tubuh Citra yang langsing dan putih terus merangsangku. Ku belai rambutnya sambil dengan satu tanganku yang terus mengocok penisku. Ku arahkan lagi jemariku dari rambutnya hingga ke bibir, dan lalu ke balik bra-nya. Susunya kenyal, hangat dan menarik perhatianku. Ku rebahkan kepalaku untuk menciumi bibirnya yang manis, bau tubuhnya sungguh harum, ku segera lumat bibirnya. Lalu kuciumin bibirnya hingga aku bosan mengocok penisku, lalu kuputuskan untuk memnafaatkan malam ini sebaik mungkin.
Ku buka semua pakaian ku setelah mengunci pintu kamar dan memastikan dengan baik tidak ada yang mengetahui aku berada di dalam kamar ini. Kedekatan kami selama ini membuat aku tertarik dengan Citra, apalagi sekarang bisa melihat tubuhnya secara cuma-cuma. Tidak mau menyia-nyiakan waktu, aku segera mendekati Citra, lalu ku buka bra hitamnya dan celana dalam hitamnya. Susunya tidak begitu besar, seperti anak muda lainnya yang baru tumbuh, kulihat baik-baik puting susunya pun seperti baru mekar, masih berwarna merah muda. Tanpa aba-aba pun aku segera melumat susu kenyalnya itu, kiri kanan bergantian ku sedoti. Terus ku alihkan ke perutnya terus ke bawah hingga arah kemaluannya, jembutnya yang rapi kuciumi, lalu ke vaginanya, merah muda, seperti tidak pernah tersentuh sama sekali.
Takut efek narkobanya selesai, aku sudahi aksi menjilati vaginanya, segera ku arahkan penisku yang sudah mengaceng ke arah lubang vagina Citra, sangat rapat, aku sangat kesulitan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Beberapa saat baru berhasil, segera ku pompa tubuhnya, ah, nikmat sekali, kuciumi juga bibir dan susunya, sesekali ku peluk tubuhnya, harum tubuhnya semakin memacu nafsuku. Ku genjot terus sambil sesekali memandang arah pintu dan arah jam, takut kelamaan sehingga ada yang menyadari saya ada di kamar ini.
Ku belai rambutnya yang lurus sambil menciumi bau tubuhnya yang harum. Gadis belia ini telah membuatku tak berdaya dalam godaan nafsu. Masih terbayang dalam benakku, gadis yang memakai seragam sma ini yang manis telah menjadi korbanku. Ku terus menggerakkan bokongku agar penisku terus memompa di vaginanya, tidak pernah ku hiraukan lagi dengan tugasku, nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun. Sesekali aku menyedot susu Citra yang ranum itu, kiri dan kanan secara bergantian, harum semerbak semakin membuatku kecanduan.
Kupeluk tubuhnya hingga kami seperti lem, erat sekali, dada bertemu dada membuatku hangat, pantatku terus bergoyang tanpa ampun terus ku genjoti Citra. Jembut ku bergesekan dengan jembutnya, sangat menarik, malam ini akan kumiliki Citra untuk sementara.
***
Beberapa saat menggenjot Citra, aku tidak begitu tenang, sehingga saya putuskan untuk segera menyudahinya. Ku genjot hingga penisku bergetar serasa ingin memuncratkan sprema, segera saya ambil tissue untuk memuncratkannya ke sana.
Sebelum keluar kamar, aku pun berpakaian kembali, kemudian tidak lupa mengambil foto tubuh Citra yang baru saja saya genjot itu dengan camera handphone ku, hitung-hitung sebagai kenang-kenangan, lalu tidak kupakaikan kembali pakaian dalamnya, hanya kututupi badannya dengan selimut lalu aku pergi kembali ke kamarku untuk istirahat.
***
Malam itu indah hingga tidak bisa aku lupakan, dan berharap suatu saat dapat merasakannya lagi. Hasil penyelidikan ini sengaja saya laporkan belum ada hasil karena satu sisi saya masih kasihan dengan Citra, saya sepertinya sedikit punya hati dengannya, sehingga saya ingin menolongnya untuk melewati masa sulitnya, dan ketika pengedarnya tertangkap, aku akan segera membantu Citra untuk dibawa ke panti rehabilitasi. Aku rasa aku sudah tergila-gila dengannya.

TAMAT

Pencarian terkait:

cerita ngewe celah ngintip, bokep spy, download bokep tahun 2000, cerita diperkosa bapak kost, BOAFODA JAKARTA TERBARU, openload ngentot, cerita dewasa diperkosa bapak kost, cerita dewasa bapak kost, cewek boking sidoarjo, diperkosa bapak koST
Uncategorized