Tergila-Gila Padamu, Citra

?TOK TOK TOK? terdengar suara pintu diketok, baru saja saya mau istirahat. ?Mas… Ini Citra?, terdengar suara perempuan di balik pintu. ?Oh, Citra, ada apa??, tanyaku ketika membuka pintu. ?Citra mau minta tolong, boleh ga??, tanya Citra dengan muka memelas. ?Apa yang bisa dibantu Cit??, tanyaku. Citra hanya menunduk, seperti malu ingin bercerita. ?Masuk dulu, ayo cerita sama mas, Citra ada masalah apa??. Citra pun masuk kemudian duduk di kursi dekat meja tulis ku.
***
Citra adalah seorang gadis SMA yang tinggal di kamar kost tak jauh dari kamarku. Sudah beberapa lama aku menyelidikinya, karena ia dicurigai sebagai pecandu narkoba. Terakhir dua minggu lalu sebenarnya aku sudah mempergokinya sedang sakau, tapi yang aku ingin hanya menangkap pengedarnya atau orang yang menjualnya ke Citra. Karena itu lah aku sengaja kost di sini, dan Citra sama sekali tidak mencurigaiku. Kian hari kami kian dekat, aku sering membantunya mengerjakan PR, bahkan kadang-kadang aku mengantarnya ke sekolah ketika temannya tidak sempat.
***
Aku mengeluarkan segelas air mineral dari kotak, sambil ku cucukkan pipetnya aku pun memberikan pada Citra sambil bertanya, ?Ada masalah apa Cit??. Citra lalu minum air mineral itu sambil menunduk dan berkata, ?Citra perlu uang mas…? ia tertunduk malu. Melihatnya begitu aku sedikit merasa iba. ?Mas Wahyu bisa bantu Citra ga??, dengan mata sedikit bersinar seperti ingin menangis, Citra memohon. ?Emang Citra perlu berapa? Buat apa??, tanyaku penasaran karena takut jumlah yang ingin dipinjam cukup besar. ?Sampai hari ini, orang tua Citra belum transfer mas, besok hari terakhir bayar SPP, kalau ga bayar, Citra tidak diperbolehkan ikut ujian semester?, jelas Citra. Mendengar itu aku sedikit iba, Citra memang sebatang kara di sini, dia berasal dari luar kota, di sini hanya untuk menuntut ilmu, ia tidak bekerja, hanya berharap kiriman dari orang tuanya.
***
Mungkin saya sedikit punya hati dengannya, tiap hari selalu memikirkannya. Pemantauanku selama ini membuatku tergila-gila, bahkan aku sudah tidak peduli lagi dengan tugasku untuk menyelidikinya. Bahkan dua minggu lalu aku sudah menidurinya, saat Citra sedang sakau dan tak sadarkan diri, hingga sekarang ia tidak pernah membahasnya, tahu atau enggak, aku tidak peduli. Aku ingin hal itu terulang lagi suatu kali, bisa memiliki Citra seorang diri.
***
?Mas sih ga punya banyak, soalnya mas juga baru kerja?, jelasku karena saat nge-kost di sini aku beralasan sedang merantau dari luar kota juga. ?Cuma tunggak satu bulan kok mas, Citra juga heran kenapa bulan ini Mama Papa ga kirim?, dengan muka yang sedih, Citra membuatku semakin iba. Aku tahu Citra sekolah di sekolah elit, SPPnya mungkin sedikit mahal, tapi apa boleh buat kalau dimemelas seperti itu. ?Nih, mas Cuma punya segini, Citra pakai saja dulu, tunggu kiriman masuk baru Citra balikin ya?, sambil mengeluarkan dompet yang ku taruh dalam lemari, kutarik uang kertas seratus ribu yang ada dalam dompetku sebanyak sepuluh lembar, hingga dompetku hanya tersisa pecahan ribuan beberapa lembar. ?Iya mas, Citra janji segera balikin, kalau bukan demi ujian, Citra masih bisa alasan ke pihak sekolah?, sebutnya.
Citra lalu segera berdiri lalu memelukku sambil berkata, ?Terima kasih mas?, pelukan hangatnya membuat nafsuku memuncak, ingin sekali aku balas berkata ?Uangnya buat Citra saja, asal malam ini Citra temani mas?, namun aku tak mampu mengatakannya. Akupun hanya membelai kepalanya sambil bilang, ?Kalau ada masalah, cerita saja ya Cit?. ?Iya mas, terima kasih?, lalu Citra pun ijin pamit untuk kembali ke kamarnya.
Aku tidak bisa tidur memikirkannya, semalaman ku pantau kamarnya, takut ada yang ke sana, curiga uang yang aku pinjamkan malah digunakan untuk membeli narkoba. Namun malam itu sepi-sepi saja, Citra semalaman tidak keluar kamar, mungkin ia sudah tertidur pulas karena lega telah mendapatkan pinjaman uang untuk membayar biaya sekolahnya. Tidak seharusnya aku mencurigainya terlalu berlebihan.
***
?Belajar yang giat ya?, pesanku saat mengantarkan Citra tepat di gerbang sekolah. ?Maaf sudah merepotkan mas?, kata Citra lalu masuk ke sekolah. Hari ini teman sekelasnya tidak menjemputnya lagi, mungkin karena ujian jadinya mereka harus sampai lebih awal. Kupacu gasku lalu ke sebuah warung kopi tempat aku janjian dengan atasanku, kami tidak mau bertemu di kantor, karena identitasku sedang disembunyikan.
***
?Apa? Belum ada hasil??, tanya atasanku. Aku menunduk dan bercerita, selama ini aman-aman saja, tidak ada pergerakan mencurigakan sebutku, tamu-tamu yang ke kost-nya Citra pun hanya teman-teman sekelas yang mengajaknya keluar jalan-jalan ataupun untuk mengerjakan tugas sekolah, tidak ada orang yang mencurigakan. Lalu atasan yang tidak bisa aku sebutkan namanya itu (sengaja aku rahasiakan agar tidak ia tidak tersinggung) menengguk secangkir kopi. Ia diam seakan-akan kecewa dengan hasil penyelidikanku yang sia-sia. ?Kamu kurang teliti?, katanya sambil geleng-geleng. ?Saya berikan tugas ini untuk melihat kinerjamu, karena semakin hari kerjaanmu semakin saja merosot?, tegurnya. Aku tidak berani memotong pembicaraannya, hanya bisa menjadi pendengar yang baik.
?Kamu yakin sudah cek dengan benar keadaan target??, tanya atasanku. ?Iya pak, target siswi baik-baik, tidak terlibat dengan dunia narkoba?, tegasku. Atasanku kemudian geleng-geleng lagi seperti marah, ?Kalau seperti ini terus, kamu bisa saya mutasikan, saya harap kamu cek lebih teliti lagi, karena saya sangat berfokus dengan penyelidikanmu, awas jangan sampai lengah?, tegus atasaku lalu ia berdiri dan meninggalkan meja.
Kepalaku lalu pusing, aku galau dengan kerjaanku, apa yang kurang lagi? Apakah atasanku tahu dengan hubunganku sama Citra? Apa ada celah yang terlewat olehku sehingga atasan tidak percaya denganku? Aku semakin galau ketika memikirkan senyuman Citra yang manis, apakah aku harus mengorbankan pekerjaanku demi dia?
Ku santai sebentar sambil menghabiskan kopi, aku semakin terpikir-pikir dengan posisiku yang terjepit ini. Ku lihat arlojiku sudah pukul 10 siang, sebaiknya aku tunggu di sini saja, soalnya pulang sekolah Citra tidak ada yang jemput, karena hari ini ujian jadi Citra pulang lebih awal, mungkin jam 11 sudah bisa pulang, paling aku tunggu kabarnya saja melalui sms.
?Mas, kopinya tambah segelas dong?, aku pesan ke pelayan warung kopi karena cangkirku sudah habis. Lalu pelayan itu membawa secangkir kopi lagi padaku, karena tidak mau buru-buru nantinya, jadi saya bayar dulu sekalian dengan secangkir yang atasanku minum. ?Berapa mas??, tanyaku sambil mengeluarkan dompet. Baru ku ingat semalam meminjamkan uang kepada Citra sehingga dompetku tipis dan tadi pagi belum sempat tarik ATM. ?Tiga cangkir dua belas ribu mas?, kata pelayan itu. Dengan wajah pucatku buka dompetku, semakin galau aku melihat isinya yang hanya beberapa lembar saja, uang seribuan, dua ribuan, dan lima ribuan, kutarik semuanya lalu ku hitung, untung saja cukup untuk bayar tiga cangkir kopi, menyisakan selembar uang nominal seribu untuk mengisi dompet. Pelayan itu hanya tersenyum melihat isi dompetku yang benar-benar menyedihkan, ?Maklum mas, bulan tua?, alasanku karena malu.
Terpikir-pikir olehku untuk segera menarik uang di ATM, kuteguk kopi yang baru saja dibuatkan oleh pelayan tadi, lalu kutinggalkan warung kopi. Di jalan aku terpikir-pikir dengan Citra, aku pun tak jadi ke arah ATM, melainkan aku putar arah ke sekolah di mana Citra menuntut ilmu.
Jam masih awal, belum ada siswa yang pulang, aku parkirkan motor ninja R ku di dekat post securiy. Ingin sekali aku mencari informasi mengenai Citra di sekolahnya. ?Maaf pak, saya dari wali siswa, mau ketemu wali kelasnya bisa??, tanyaku ke security yang sedang berjaga. ?Oh, masuk saja ya langsung ke kantor, di sana ada guru-guru, tanya saja di sana ya pak, sebutkan saja nama siswa dan kelas berapa?, security itu menunjuk kantor guru di tengah gedung sekolah. ?Terima kasih pak, mari ya?, saya minta ijin masuk ke sekolah.
Ada beberapa guru sedang duduk di meja masing-masing sambil mengerjakan tugas mereka, mungkin memeriksa tugas siswa atau sebagainya. Ku ketok pintu lalu bertanya, ?Permisi, mau ketemu walikelas untuk kelas 10A?. ?Oh iya, saya sendiri?, jawab seorang ibu guru yang duduk di sudut ruangan. ?Masuk saja pak?, ia mengijinkan. Aku pun duduk di depan meja kerjanya, ?Ada perlu apa ya pak??, tanya ibu guru yang masih muda di hadapanku. Di baju dinasnya tertera namanya Nirwati, ia masih muda dan sedikit terlihat ayu.
?Nama saya Wahyu?, aku memperkenalkan diri, ?Saya pamannya Citra?, aku berbohong untuk mendapat informasi tentang Citra. ?Wah, kebetulan sekali pak, saya hubungi nomor handphone orang tuanya sudah tidak aktif?, cerita bu Nurwati. Ternyata semua yang tidak ku ketahui tentang Citra kini membuatku kaget, Citra sering bolos sekolah, bahkan beberapa hari terakhir sering tidak masuk sekolah. Nomor handphone yang Citra berikan ke sekolah yang katanya adalah nomer handphone orang tuanya pun ternyata tidak aktif. Lebih parahnya lagi, uang SPP Citra sudah telat tiga bulan. ?Baru semalam saya kasihkan uang untuk bayar SPP?, sebutku, tapi walikelasnya hanya geleng-geleng.
Aku tidak percaya, Citra yang selama ini aku kira adalah siswi rajin, kini sirna, bahkan ia sudah membohongiku. Aku pun minta maaf ke walikelasnya, lalu ijin pamit dan berjanji akan menegur Citra. Ternyata apa yang aku bela di depan atasanku adalah sesuatu yang sia-sia, aku pun keluar ruangan dan berjalan kembali ke parkiran.
?Loh, mas Wahyu, kok awal sudah ke sini??, tanya Citra kaget melihatku ada di post security. Aku melihatnya berjalan dari arah luar pagar sekolah, bukan dari dalam gedung sekolah, sangat yakin aku kalau Citra pura-pura sekolah saja. Tidak ingin dicurigai aku hanya bilang, ?Iya, tadi kerjaan sudah beres, jadi mas awal langsung ke sini, daripada bete gak ada buat?. Lalu Citra pun kuantar pulang hingga ke kost, aku pura-pura tidak tahu agar tidak dicurigai, namun rasa penasaranku mengenai uang yang aku pinjamkan, apakah telah dihabiskan untuk membeli narkoba???
***
Citra tidak keluar dari kamarnya sejak pulang dari sekolah, aku terus mengintai keadaannya, tapi karena penasaran, takut seperti hari-hari sebelumnya di mana Citra tak sadarkan diri, jadi aku coba mendekati pintu kamarnya. ?TOK TOK TOK? aku mengetuk pintu dengan pelan, tapi ditunggu-tunggu tidak ada respon dari dalam. Ku coba buka pintunya dan ternyata tidak terkunci. Kaget bukan main, seperti yang kulihat dua minggu lalu, Citra terkapar di ranjang dengan posisi terlentang, aku masuk dan coba membangunkannya, tapi tidak ada respon, ia seperti orang mabuk ataupun over dosis obat. Aku yakin ia sedang sakau karena botol ?boom? tergeletak di bawah ranjang.
Bukti yang sangat jelas kalau Citra memang pecandu narkoba, tapi apa yang bisa aku perbuat, aku belum menemukan penjualnya, suatu saat aku harus bertanya langsung kepada Citra secara terbuka. Seperti hal nya minggu lalu, aku pun cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya, ini kesempatan yang aku tunggu-tunggu, mungkin aku sudah kecanduan seks gara-gara kejadian sebelumnya. Tidak ingin kepergok, aku pun segera melancarkan aksiku.
Kulepaskan semua pakaianku hingga bugil, lalu giliran Citra, kulepaskan baju kaosnya, lalu bra nya, lalu celananya dan celana dalamnya, hingga telanjang bulat. Citra tidak sadarkan diri, apa yang aku perbuat terhadapnya entah dia tahu atau tidak. ?Ini nih hasil satu juta yang aku pinjamkan semalam?, gumam ku dalam hati. Kupandangi tubuhnya yang indah, lalu ku cari handphone ku dan ku foto tubuh indah Citra. Badannya yang mungil dengan susu yang tidak begitu besar sangat menggairahkan. Nafsuku terpancing oleh pemandangan ini. Kulitnya putih, putingnya merah muda, dan jembutnya jarang, membuat liurku serasa menetes keluar melihatnya.
***
Aku kemudian menindih tubuh Citra yang tak berkutik di ranjang, ?Aku suka kamu Cit…?, ku bisikkan perasaanku di telinganya, lalu kucium keningnya, pipinya, lehernya dan lalu bibirnya. Kurebahkan tubuhku di atas tubuhnya, asyik sekali, jantungku berdegup kencang, terasa hangat tubuh Citra merasuk ke balik kulitku. Lalu aku memposisikan diri agak ke bawah untuk mengulum puting susunya. Putingnya kecil, seperti tidak pernah terjamah sama sekali, merah muda dan harum. Kusedot susu gadis ABG ini dengan kuat seperti serigala kelaparan, kiri kanan ku sedot bergantian, sambil meremas-remasnya dengan tanganku.
Terasa penisku sudah ngaceng mengenai selangkangannya, aku tidak sabar lagi untuk melampiaskannya. Aku pun segera bangkit untuk mengarahkan penisku ke vagina Citra, tanpa pemanasan, vagina Citra belum basah sehingga agak sulit dimasukkan. Kucoba terus hingga berhasil, walaupun sedikit kering, aku sudah tidak peduli. Lalu ku maju mundurkan bokongku sehingga penisku keluar masuk di vagina Citra. Sambil meremas susunya, aku merebahkan diri lagi untuk melumat bibirnya yang manis, sesekali kubelai rambutnya yang panjang, harum sekali, mungkin tadi Citra baru saja keramas, bau shampoo nya masih kuat.
Sambil menggenjotnya aku sudah putuskan untuk menembak Citra menjadi pacarku, kalau dia sudah sadar, aku akan coba menembaknya, masalah narkoba, mungkin aku harus paksa dia berhenti, lalu aku harus membawanya ke panti rehabilitasi, memaksanya membocorkan siapa dalang dibalik ini, siapa yang menyuplai narkoba padanya, dan tugasku ini pun akan segera selesai.
?Oh yess…?, desahku, nikmat sekali, rasanya bagaikan sorga dunia, nikmat yang sudah sampai ke ubun-ubun ini membuatku mempercepat irama genjotanku. Berselang hampir tiga puluh menit, akhirnya aku sudah tidak tahan, aku keceplosan, sperma tersemprot ke dalam vagina Citra, agak kaget, namun apa boleh buat, lebih nikmat begini, aku kemudian memeluk erat tubuh Citra sambil membiarkan sperma ku masuk habis ke dalam vaginanya.
Merasa puas dan sedikit takut ketahuan, aku pun segera membereskan pakaianku, kukenakan kembali pakaianku, namun ku biarkan Citra telanjang bulat begitu, seperti dua minggu lalu dia juga tidak curiga padaku. Kututup kembali pintunya lalu aku kembali ke kamarku.
***
?Cit, mas mau ngomong…?, kataku saat mengajaknya makan di warung depan kost. Sesuai rencana semalam, aku ingin menembaknya. ?Mau ngomong apa mas??, tanya Citra sambil menikmati semangkok mie instan rebus. ?Mau gak Citra jadi pacar mas??, tanyaku dengan wajah serius. ?Bhebbss?, Citra hampir tersedak gara-gara mendengar pertanyaanku. Lalu ia minum teh es kemudian mulai menjawab pertanyaanku, ?Ah, mas… Citra kan masih sekolah, belum siap pacaran…?, jawabnya yang sedikit membuatku kecewa. ?Lagian mas sudah kayak saudara Citra, sudah Citra anggap kayak abang Citra..?, lanjutnya sambil meneruskan makan. Jawaban yang mengecewakan, aku pun malu dan hanya bisa bilang, ?Hahaha, mas Cuma ngetest Citra kok?, pura-pura bercanda dan sedikit tegar.
***
Aku masih suka dengan Citra, walaupun ia menolakku, tapi hatiku tidak bisa berbohong, ada rasa cinta yang membuatku tergila-gila dengannya. Hubungan kami sebatas teman, menemaninya mengerjakan PR, mengantarnya ke sekolah, walaupun kadang-kadang ia bolos, tapi belakangan ini dia sedikit berubah sejak aku membayarkan SPPnya langsung ke sekolahnya. Kegilaanku pun tidak berubah, setiap malam aku selalu mengintainya, apabila dia sakau, maka aku akan memanfaatkan waktu itu untuk menggagahinya. Bahkan aku selalu support keuangannya, meminjamkannya uang jika ia perlu, sehingga ia bisa beli narkoba, dan malamnya aku bisa memperkosanya dengan aman.
Kejadian itupun terus berlangsung, aku kecanduan hingga lupa dengan tugasku. Hingga berbulan-bulan berlalu, dan aku pun mendapatkan punishment dari kantorku, aku dinyatakan gagal melaksanakan tugasku, aku pun dipindahtugaskan, aku sedih, aku tidak bisa full bertemu Citra, hanya malam aku bisa balik ke kost, bahkan kadang-kadang aku harus tidak pulang ke kost. Tugas menyelidiki Citra pun diserahkan ke petugas lain, sehingga aku tidak bisa memanfaatkan tubuhnya lagi sebagai pemuas nafsu. Aku hanya bisa memandangnya dari kamar kostku, apapun yang terjadi, aku tetap menyukaimu, Citra.

TAMAT

Pencarian terkait:

Nafsu birahi citra, nafsu birahi citra part 40, cerita nafsu birahi citra, birahi citra, cerita dewasa nafsu birahi citra, nafsu birahi citra part, nafsu citra, cerita birahi citra, cerita seks nafsu birahi citra, Citra Side Story
Uncategorized