SIDE STORY – Kekejaman Tentara Jepang Di Masa Penjajahan

Side Story MY DIARY 44 Based Story By Kobayashi (translate Bahasa Indonesia)

Malam itu kami diperintahkan komandan untuk menyurusi hutan, kami harus bisa menemukan para pelarian. Sekitar dua puluhan tentara diterjunkan, kami berpisah menjadi lima kelompok, masing-masing menyusuri hutan melalui arah lain. Beberapa warga desa telah melarikan diri, kami hanya dipesan oleh atasan untuk menangkap mereka hidup atau mati, kalau melawan ya bunuh saja. Beberapa target yang kami incar adalah pemuda yang berpendidikan cukup tinggi serta warga desa yang mempunyai kedudukan atau terkemuka.
“Sepertinya saya melihat ada gubuk di arah sana”, kata Jiro menunjuk ke arah sebelah kanan kami. “Ayo kita periksa”, balas Nohara. Kami adalah tentara Jepang, sudah berabad-abad kami menduduki negara ini, Indonesia. Tujuan kami adalah menaklukkannya dan memanfaatkan warganya untuk kepentingan di negara kami, penduduknya kami jadikan budak, sedangkan kekayaan alamnya menjadi harta negara kami. Walau sedang berseteru dengan negara adi daya Amerika Serikat, namun kami cukup optimis bisa menaklukkan Indonesia, bagi kami mereka bangsa yang lemah, hanya bisa bersembunyi, susah untuk bersatu padu melawan kami, beda dengan bangsa lain yang cukup kuat solidaritasnya melawan kami.
“Iya, di sana ada gubuk, ayo pelan-pelan periksa”, kata Nohara. Kami pun mematikan senter kami untuk pelan-pelan mengendap-ngendap ke gubuk itu. Walaupun cukup gelap, namun cahaya bulan masih sanggup menerangi langkah kami.
Benar, di dalam gubuk ada beberapa orang sedang tertidur pulas. Sambil berbisik Jiro meminta kami menyergap mereka. Kode-kode diberikan, aku berjaga di luar karena takut ada yang menjebak kami. Dengan cepat lima orang di dalam sana takluk di tangan kami yang membawa senjata lengkap. Dua perempuan dan tiga laki-laki, mereka sudah diikat oleh Nohara.
Aku menoleh kanan kiri untuk berjaga, takut ada warga yang masih bersembunyi lalu menembak kami dari balik pohon. Sebentar saja ku lihat ke dalam gubuk, satu pria tertembak dan tak sadarkan diri, mungkin sudah mati, dua pria lainnya terkulai karena pukulan tentara lain, dua tentara itu aku tidak mengenal namanya, mereka tidak satu base dengan kami. Namun mereka lebih bringas dari kami, mereka berdua berencana memperkosa dua gadis pribumi itu, aku cuma bisa pesan, “Ayo cepat, kita harus bawa ke komandan”, namun mereka hanya tersenyum sambil bilang, “Soroti…”. Mereka berempat mulai memperkosa kedua gadis itu.
Karena sedikit perlawanan, ke dua gadis itu dipukul dan ditendang hingga pingsan. Mereka pun akhirnya diperkosa bergilir tanpa sadarkan diri. Aku sebenarnya ingin bergabung karena penisku mengeras, namun karena harus berjaga, aku mengurungkan niatku. Berjam-jam aku hanya mendengar suara kesenangan teman-temanku memperkosa para gadis itu, hingga mereka merasa puas dan akhirnya menghentikan aksi mereka. Kelima warga yang kami temukan itu segera kami bawa ke markas kami.
“Bagus”, kata komandan sambil melihat hasil buruan kami. Para pria yang tertangkap kami bawa ke penampungan pekerja, mereka akan kami jadikan budak untuk bekerja tanpa bayaran, membantu kami mengolah kebun atau pun membuat jalan. Dua gadis yang kami temukan diminta oleh komandan, “Mandikan mereka lalu bawa ke ruangan ku”, pinta komandan.
“Kamu saja”, ujar Jiro menunjukku melaksanakan perintah komandan. “Kamukan dari tadi belum menikmati mereka, mandikan saja sambil main”, kata Jiro. Komandan mendengarnya, baginya itu sudah biasa, ia malah tertawa, “Payah kamu Kobayashi!!!”, ia mengolokku, “Apa kejantananmu sudah rusak?”, tanya komandan. Aku tertunduk malu karena tadi tidak ikut nimbrung memperkosa dua gadis itu. “Ayo saya temani saja”, ajak Jiro sambil membawa satu gadis, sedangkan satunya terpaksa saya bopong ke kamar mandi mengikuti Jiro. Nohara dan tentara lainnya diperintahkan komandan untuk bubar dan beristirahat karena besok akan dilanjutkan pencarian kami.
“Lihat tubuhnya mulus, putingnya kecil”, kata Jiro memandikan gadis desa itu. Tubuh dua gadis itu mungil, mereka masih remaja, mungkin sekitar umur enam belasan. Kami rendam tubuh mereka di bak mandi, sambil kami belai-belai agar bersih, karena tadinya ada sisa-sisa liur dan sperma bekas perkosaan para tentara. “Setubuhi saja kalau kamu mau”, tawar Jiro. Aku hanya meremas-remas payudara kecil milik gadis itu, mereka masih antara pingsan dan sadar, nafas mereka tertatih-tatih. Aku tidak mau melakukannya walaupun aku sudah bergairah, melihat mereka tak berkutik begini malah membuatku sedikit prihatin. “Ayo lah”, kata Jiro yang sudah membuka pakaiannya, sepertinya ia masih belum puas menikmati gadis itu, “Waktu kita tak banyak, setelah bersih harus kita bawa ke komandan, ayo manfaatkan kesempatan”, tegas Jiro yang langsung terjun masuk ke bak. Jiro mulai memperkosa gadis itu di dalam bak, sedangkan aku masih saja belum tega, aku hanya membersihkan tubuh gadis tak berdaya itu.
“Payah kamu, sini kalau kamu tak mau”, katanya ketika sudah puas memperkosa gadis yang dia bersihkan. Ia mengambil gadia yang aku bersihkan sambil bilang, “Bersihkan tuh, nanti langsung saja bawa ke komandan, yang ini nanti saya susul”, perintahnya. Aku hanya menurutinya, aku sedikit menghormatinya karena dia lebih senior dariku. Jiro mulai memperkosa gadis satunya, aku pun membersihkan kembali gadis yang tadi diperkosanya, kucucikan sabun, dan ku keringkan badannya dengan handuk. Gadis itu sedikit terjaga, seperti orang antara sadar dan tidak, matanya sayub-sayub dengan tubuh tanpa kekuatan untuk berdiri. Ku oleskan parfum ke badannya agar komandan suka, lalu ku bopong membantunya berdiri dan berjalan ke kamar komandan. “Nama?”, tanyaku, hanya sedikit kosakata yang aku pelajari mengenai bahasa Indonesia. “Raha..yu..”, jawabnya pelan tanpa tenaga. Gadis kecil ini sangat malang, sebentar lagi dia akan masuk ke kandang singa. Aku tahu komandan adalah seorang yang cukup brutal, setiap ada gadis baru yang tertangkap selalu ia mainkan hingga bosan baru dibuang ke penampungan para gadis penghibur.
Setiap gadis muda dan cantik yang tertangkap selalu menjadi budak pemuas nafsu di sini, mereka kita pelihara di base khusus penampungan gadis penghibur, beberapa yang kita anggap sudah tidak layak baru kita pulangkan ke kampungnya, namun beberapa ada yang mati karena kekejaman para tentara yang hypersex. Ada yang disiksa dengan kejam, dengan hubungan seks yang sangat keras, namun ada pula tentara yang lebih romantis memperlakukan para gadis. Namun sangat disayangkan, komandan di divisi kami lebih masuk ke kategori yang hardcore, ia tidak segan-segan berlaku kasar.
‘Tok tok tok’, aku mengetuk pintu kamar komandan. “Ya, masuklah”, jawabnya, lalu aku pun membuka pintu. Komandan sudah telanjang dada, badannya atletis sekali walaupun umur sudah empat puluhan, hanya sehelai handuk putih yang menutupi bagian bawahnya. “Taruh dan ikat di sana”, kata komandan memerintahku mengikat gadis yang aku bawa ke kursi yang biasa dipakai untuk menyiksa para gadis.
“Hahaha, manis sekali gadis remaja ini”, komandan memuji sambil tertawa, ia memegang dagu gadis itu yang masih lemah, kakinya terikat ke dua arah hingga selangkangannya terbuka, sedangkan tangannya diikatkan ke belakang. Komandan lalu menciumi bibir gadis itu, “Hmm, harum…”. Komandan lalu mengambil tongkat komandonya, tanpa ragu ia langsung menusukkannya ke vagina gadis itu, kalau tidak salah namanya Rahayu. “Arghhhhhhh…..!!!!”, gadis itu merintih kesakitan ketika gagang tongkat yang besar itu dibenamkan ke lubang vaginanya. “Teriak lah sekuatmu!!!”, bentak komandan kemudian memutar-mutarkan tongkatnya. “Graaaa…. Saa…. sa… sakiiiiitttt………”, rintihan gadis itu diiringi mengalirnya air mata yang kemudian membasahi pipinya. Badannya terus berontak ingin melawan, namun ikatan kuat membuat usahanya sia-sia.
Beberapa saat kemudian, komandan sudah bosan dengan mainan tongkatnya, ia kemudian mengarahkan penisnya ke lubang vagina gadis tak berdaya itu. Komandan mulai menggenjotnya, terus menerus dengan kuat, hanya rintihan kesakitan yang terdengar dari gadis malang itu. “Aku suka gadis mungil seperti ini”, kata komandan sambil meremas buah dada Rahayu yang tidak begitu besar. Dengan remasan yang kuat semakin membuat Rahayu semakin merintih kesakitan, “Sakit….”, air matanya terus mengalir hingga matanya memerah.
“Nikmat…”, kata komandan yang mempercepat irama genjotannya, sepertinya sebentar lagi beliau akan berejakulasi. “Ahhh……..”, rintihan panjang kenikmatan menandakan komandan sudah berejakulasi di dalam vagina gadis itu. “Hiks hiks…”, gadis itu menangis dengan kepala tertunduk.
“Kobayashi! Cepat ambil posisi!”, perintah komandan menyuruhku mengambil giliran untuk memperkosa gadis pribumi itu. “Maaf komandan, saya…”, aku mencoba menolak, walaupun penisku sudah sangat mengeras, namun aku sangat prihatin dengan gadis malang itu. Lagian aku juga memikirkan keluargaku di Jepang sana, tidak tega aku harus mengkhianati istriku yang sedang menungguku pulang dari medan perang. Tentara-tentara kami mungkin banyak yang tidak mampu menahan nafsu karena lama sudah meninggalkan kampung halaman, namun aku tidak bisa seperti mereka, aku sebaiknya memilih tetap setia.
“Payah kamu!”, teriak komandan ke arahku. Aku pun hanya menunduk tidak berani menatapnya. Ia kemudian menatap gadis itu dengan tatapan tajam, dengan mencengkram pipinya ia pun bertanya, “Kamu haus?”. Gadis itu hanya diam sambil melototi komandan. “Dasar sialan!!!”, komandan marah lalu menampari pipi gadis itu, ‘PLAK’ suara keras tamparan berulang-ulang terdengar. Kiri kanan pipi gadis itu terus ditampar kuat oleh komandan.
“Kobayashi!!! Apa kamu tidak mau mendengar perintahku!!!”, teriak komandan ke arah ku, dia terlihat marah, sifatnya yang susah ditebak karena emosi yang meluap-luap memang membuat kami takut dengan gaya kepemimpinannya. “Gadis ini haus! Beri dia minum jus tubuhmu!!!”, perintah komandan. Aku takut, aku pun dengan sangat terpaksa menurutinya. Ku berjalan ke arah gadis yang masih terikat itu, lalu ku buka resleting celanaku dan ku keluarkan penisku, aku tahu komandan ingin gadis ini meminum sperma ku, itu yang biasa dia lakukan kepada gadis-gadis tawanan di sini. “Jangan sampai ia memuntahkannya!”, pesan komandan lalu kembali ke kursi untuk duduk memperhatikanku.
Ku kocok penisku di depan muka gadis itu, wajahnya cantik, kulitnya tidak seputih gadis Jepang di negara kami, pribumi memang sangat membuat kami penasaran. Kutahan pipinya agar mulutnya terbuka lebar, gadis ini tidak bisa melawan, matanya hanya tertutup rapat, ia tidak mau melihat penisku di depan matanya, pipinya merah karena tamparan, bibirnya sedikit koyak, dan air matanya masih sedikit mengalir. Ku percepat kocokan penis ku berharap ini semua segera berakhir, aku tidak ingin melihat gadis ini disiksa lagi.
CROT, akhirnya beberapa menit kemudian penisku menyemprotkan sperma tepat di mulut gadis itu, ku tahan mulutnya agar semua sperma masuk ke dalam kerongkongannya. Aku memaksa gadis itu menelan sperma ku, aku tidak mau komandan marah gara-gara gadis ini memuntahkannya. “Bagus…”, puji komandan sambil bertepuk tangan, ia tersenyum melihatku.
‘Tok tok’, bau saja selesai membersihkan penisku, tiba-tiba pintu terdengar ketukan, “Ya, masuk lah”, kata komandan. Jiro pun masuk ke ruangan sambil membawa seorang gadis yang tadi ia mandikan, gadis itu sudah siuman, ia terlihat segar karena selesai mandi. Gadis itu melototi kami, tubuhnya mungil seperti gadis yang tadi diperkosa komandan. “Hmmm…”, komandan bangkit dari kursi lalu mendekati gadis yang di bawa oleh Jiro, ia mengendus-ngendus bau dari gadis itu, “Harum”, kata komandan. Gadis tanpa busana itu berusaha menjauhi komandan, namun Jiro memeganginya dengan kuat. “Cuih!”, gadis itu meludahi wajah komandan yang berusaha menciumi bibirnya. ‘PLAK!!!’, tamparan yang sangat keras ke pipi gadis itu hingga gadis itu jatuh tersungkur. “Sialan!”, teriak komandan lalu menendangi gadis itu. “Argh!!!”, gadis itu merintih kesakitan.
Gadis itu bangkit, lalu coba lari ke arah pintu, dengan cepat Jiro mengejarnya dan menangkapnya kembali. “Jangan coba-coba kabur ya!!!”, ancam Jiro walau pun belum tentu gadis itu mengerti bahasa Jepang namun nada ucapan Jiro sangat bisa dimengerti. Gadis itu diseret dengan mencengram rambutnya yang panjang, Jiro membawanya kembali ke komandan, lalu mendorongnya ke arah komandan. “Aku suka gadis yang melawan”, kata komandan sambil menjulurkan lidahnya. “Kalian bersenang-senang lah dengan yang itu, ini biar saya tangani sendiri”, kata komandan.
Jiro langsung berjalan menuju arah ku, ia melirik nafsu gadis yang terikat di kursi. Gadis yang baru saja menelan sperma ku, bahkan sudah berulang-ulang diperkosa oleh Jiro, akan kembali mendapat perlakuan buruk. Gadis ini sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya terikat dengan lunglai. Jiro pun mulai melepaskan seragam tentara nya, nafsunya sudah menggebu-gebu. Kasihan sekali, ingin sekali aku menyelamatkan para gadis ini, membiarkan mereka hidup bebas bersama keluarga mereka, aku sadar walaupun kami perlu kekuasaan, namun tindakan kami tidak berkeprimanusiaan. Negera ini suatu saat harus bisa berjaya sendiri, biarlah tentara kami pulang kepada negara kami, berkumpul kembali dengan keluarga kami, hidup tentram dan damai tanpa peperangan.
Jiro sudah mulai menusukkan penisnya ke vagina gadis yang tak sadarkan diri itu, sedangkan komandan masih menyiksa gadis yang tadi meludahinya, gadis itu dipukul dan ditampar-tampar, rambutnya dijambak, putingnya dicubit-cubit, payudaranya diremas kuat, dan vaginanya ditusuk-tusuk dengan tongkat komandan. Gadis itu tak bisa melawan, aku hanya berdiri kini di depan pintu, berharap tidak ada yang masuk ke sini, komandan sangat hypersex, dia sangat suka berbagi gadis dengen tentara lainnya. Biasanya gadis cantik yang tertangkap akan digilir beramai-ramai oleh semua tentara di base kami, kini para gadis itu ada di penampungan, setiap tentara yang ingin bercinta bisa menunjuk gadis mana saja yang ada di penampungan asal ada ijin dari komandan.
“Hahaha”, Jiro tertawa terbahak-bahak sambil terus menggenjot Rahayu, gadis kecil malang yang masih belum sadarkan diri itu terikat kuat di kursi. Komandan pun sudah puas menyiksa gadis satunya lagi, kini ia sudah mulai memperkosanya, ia menusukkan penisnya ke vagina gadis itu, mereka tergeletak di lantai, komandan meremas buah dada nya dengan kuat, gadis itu merintih kesakitan. “Hiks hiks”, gadis itu menangisi nasibnya, komandan tidak menghiraukannya, ia terus menggenjoti gadis itu tanpa henti-hentinya. Sesekali komandan menggigit puting susunya lalu menariknya. Gadis itu sesekali mencoba mendorong tubuh komandan, namun tenaga nya sudah cukup banyak terkuras, perlawanan yang sia-sia, bahkan membuat komandan tambah bergairah.
Beberapa menit masih belum selesai, komandan masih terus menggenjot, bahkan ia memintaku memanggil tentara lain, “Panggilkan semua kepala divisi!”, perintahnya. Aku sedikit terpaksa melakukannya, kepala divisi di base kami ada sekitar lima belas orang, biasanya komandan akan menyuruh mereka membantu memperkosa para gadus tawanan, setelah puas baru digilir lagi oleh bawahan divisi. Aku pun berjalan menjauhi ruangan komandan, ku panggal semua kepala divisi agar menuju ruangan komandan.
Seperti biasanya, setelah komandan puas memperkosa gadis yang tergeletak di lantai itu, para kepala divisi diminta mengangkat gadis itu ke atas meja, lalu mereka bergiliran memperkosa gadis itu. Komandan kemudian hanya duduk di kursinya sambil merokok menikmati aksi gangrape di depan matanya. Gadis itu sudah gak mampu melawan, ia dengan terpaksa menuruti mereka semua, ia merelakan tubuhnya dijamah semua pria yang ada di ruangan. Sedangkan Jiro sudah selesai memperkosa gadis yang bernama Rahayu itu. “Komandan, saya menginginkan gadis ini”, pintaku ke komandan karena tidak tega melihat gadis yang sudah tak sadarkan diri ini akan digilir lagi oleh para kepala divisi. “Hahaha, kamu ini diam-diam menghanyutkan ya…”, olok komandan. “Saya malu, saya ingin lebih private”, kataku. “Bawa saja, saya tidak suka pemerkosaan tanpa perlawanan”, kata komandan. “Terima kasih”, aku lalu dengan segera menuju ke arah gadis itu dan segera melepaskan ikatannya. “Ckckckck, egois sekali kamu sampai mau nikmati sendiri”, ejek Jiro sambil membantuku melepaskan ikatan Rahayu. “Saya tak suka pemaksaan”, jawabku lalu mulai membopong gadis yang masih pingsan ini menuju pintu. “Eits tunggu”, teriak komandan, “Habis pakai jangan lupa cuci, nanti masukin ke penampungan ya!”, perintah komandan. “Baik komandan!”, jawabku.
Aku lihat gadis satunya lagi masih digenjot para kepala divisi, ia sudah tak melawan, aku juga tidak bisa menolongnya. Aku pergi dari ruangan komandan, menuju kamarku, aku tidak bisa menyelamatkan gadis ini, namun paling tidak biarlah malam ini dia beristirahat sebentar, tidak disiksa untuk malam ini.
Aku membersihkan tubuhnya, memandikannya, lalu mengeringkannya, tubuhnya memang imut, dengan susu yang baru tumbuh membuatku kasihan dia harus kehilangan masa depannya. Aku membiarkannya tidur di ranjangku, sejenak aku berpikir aku sangat berdosa, pekerjaanku membela negara hanya menjerumuskanku ke dalam dosa. Aku menjaganya terlelap hingga pagi hari, hingga komandan memanggilku. “Kamu tidak melaksanakan perintahku?”, tanya komandan, “Kenapa kamu masih menyembunyikan gadis itu?”, kata komandan. “Segera bawa ke penampungan!!!”, perinta komandan. Aku pun segera kembali ke kamar dan mendapatkan gadis itu sudah bangun, tanpa busana gadis itu ku giring ke penampungan. “Maafkan aku”, kataku.
Penampungan gadis penuh, semua gadis dibiarkan telanjang bulat di sebuah ruangan berjeruji, Rahayu ku masukkan ke dalam, sambil lirik-lirik, aku tidak melihat gadis semalam yang diperkosa para kepala divisi. Penasaran aku pun bertanya kepada penjaga. “Ada di camp bersama tentara lainnya”, kata penjaga. Ternyata gadis itu masih menjadi korban hingga pagi ini, maklum, barang baru memang banyak peminatnya. Aku hanya kasihan saja, mungkin sebentar lagi Rahayu juga akan dibawa keluar lagi ke camp.
Aku berjalan menuju tempat latihan, melewati camp, dan ku intip ternyata benar, gadis semalam sedang digilir sekitar empat puluhan tentara, semua antri di dalam sana. Gadis iti sudah tak berkutik, tangan dan kaki nya terikat, ia hanya bisa terdiam membiarkan vaginanya dimasuki penis keluar masuk, dan buah dadanya diremas-remas para tentara. Aku tak sanggup melihatnya, aku harus pergi sebelum aku diajak masuk. Namun sebelum beranjak dari sana, sudah kulihat, cepat sekali sudah ada seorang tentara masuk lagi membawa Rahayu, dibelakangnya diikuti tentara lain yang lebih banyak, mungkin total sudah ratusan orang. Kini Rahuyu dan temannya akan jadi bulan-bulanan tentara, aku pun pergi menjauh, lebih baik aku tidak melihat kekejaman mereka di depan mata.

TAMAT

Pencarian terkait:

komik hentai lesbian, nyai stream, bokep stw selingkuh, pinkclips, muslimahx, komik lesbian, gadismalam fr, komik hentai obat tidur, bokep rohingya, pinkclip bokep
Uncategorized