Rumah Kost No 39 – Bu Siska

Terus terang cerita yang ini kisah bejatku yang kedua. Aku agak lupa tanggal tepatnya. Pokoknya seingatku kejadian ini sekitar dua bulan terakhir sebelum aku pindah kamar kost. Kurang lebih dua tahun setelah aku memperkosa kak Mila.
Bicara tentang kak Mila, setelah kejadian kuperkosa, beberapa bulan kemudian dia pindah ke apartemen. Aku tau dari info pembantu kost, mbak Muji.
Oke, langsung kita mulai ceritaku dengan bu Siska. Seperti biasa, semua cerita apa adanya hanya nama yang aku samarkan.

Aku mengenal bu Siska ini sejak awal masuk kost, beliau kost dengan suaminya, pak Anto. Mereka buka usaha kantin di depan kost. Mereka belum dikaruniai anak. Umur bu Siska tiga tahun lebih muda dari pak Anto yang berumur 39. Aku tahu karena pernah mengobrol dengan pak Anto. Berarti umur bu Siska sekitar 36 tahun, dan umurku saat itu 22 tahun. Bu Siska ini mirip banget dengan artis indonesia Five V, baik posturnya maupun wajahnya. Bu Siska ini orangnya ramah dan baik banget, sayang suaminya agak gak beres, hobi nya judi dan mabuk. Pernah beberapa kali waktu tengah malam aku lewat depan kamarnya terdengar pertengkaran, bahkan suara tamparan (gak tau deh siapa yang nampar dan ditampar).
Suatu hari aku pulang dugem sekitar jam 1 pagi. Suasana di kost masih hidup, karena waktu itu sedang ada piala dunia 2002. Hampir setiap kamar kudengar suara tv dan beberapa orang didalam sedang tertawa, ngobrol sambil menonton bola. Di koridor dan teras kost tidak ada orang, karena beberapa grup mengumpul di beberapa kamar untuk nonton bareng. Barangkali kalau ada maling juga gak ada yang tau. Nah, saat itu aku masih agak mabuk dan horny banget. Ada satu cewe di kost ini, namanya Diana, dia cantik dan seksi, dia seniorku di kampus, hanya beda jurusan. Kadang aku suka mencuri pakaian kotor seperti bra atau celana dalam yang ada di ember depan kamarnya, buat bahan onani. Kali ini aku ingin mencuri lagi karena suasana koridor sepi. Tapi ketika aku baru mau membungkuk di depan ember Diana, tiba-tiba bu Siska lewat, kebetulan kamarnya ada di ujung sebelah kanan koridor barisan kamar Diana. Aku kaget bukan main dan salah tingkah, takut kepergok bu Siska. Untungnya bu Siska tidak memperhatikan, dia sedang sibuk sms sambil membawa peralatan mandi. Sempat dia juga kaget keberadaan ku di koridor itu,
Bu Siska melempar senyum padaku, dan aku balas tegur sapa, “eh ibu, baru mau mandi bu?” Aku basa basi. Bu Siska hanya mengangguk dan senyum lagi. Setelah melewatiku, kuperhatikan dari belakang, pantat bu Siska ini lumayan montok, dia hanya mengenakan daster putih bermotif kupu-kupu warna krem, daster itu cukup tipis memperlihatkan bayangan celana dalamnya. Otakku langsung ngeres, karena saat itu aku memang sedang horny. Goyangan pinggul dan pantatnya membuat dadaku berdebar, dan seketika aku berpikir ingin mencicipi bu Siska. Kemudian aku ikuti langkahnya diam-diam saat menuju kamar mandi, dan ternyata bu Siska berhenti di lorong utama menuju kamar mandi, dia terfokus sms, mungkin dengan pak Anto. Dan aku langsung membelokkan langkah menuju koridor arah kamarku. Aku berdebar dan bingung mau apa. Akhirnya aku putuskan untuk ke kamar saja.

Setelah di kamar, aku masih terbayang bu Siska, entah kenapa aku sangat bernafsu dengannya. Aku merokok sebatang sambil melamun. Beberapa menit kemudian akhirnya aku pergi sambil membawa peralatan mandi dan berharap bisa ketemu bu Siska di lorong tadi. Tapi bu Siska sudah tidak ditempat. Mungkin sudah mandi pikirku. Ketika aku masuk kamar mandi ternyata tidak ada air, terpaksa aku turun ke kamar mandi lantai satu. Di lantai satu ada empat kamar mandi, tapi hanya dua yang dekat dengan tangga, dua kamar mandi ini bobrok sebenarnya. Apa boleh buat, aku mau yang gampang aja deket tangga. Ternyata ada satu kamar mandi yang kosong, karena satunya ada orang. Di dalam kamar mandi aku masih saja horny, aku ingin mengintip siapa yang mandi, barangkali cewe kan lumayan. Kamar mandi itu terpisah dinding separuh, dindingnya hanya setinggi kurang lebih dua setengah meter, sedangkan plafonnya tiga meter. Sehingga suara guyuran orang mandi sangat jelas. Aku mencoba naik di pinggiran bak mandi supaya bisa mengintip ke ruang sebelah. Dan apa yang kulihat, alamaaaakk… itu bu Siska.

Jantungku berdetak keras sekali, penisku tidak bisa ngaceng, mungkin karena terlalu tegang. Dari atas kulihat bu Siska sedang pipis, ah bodynya mulus, pantatnya bahenol ketika berjongkok di closet. Aku sangat berhati-hati takut ketahuan olehnya. Tanganku sedikit bergetar menahan tubuhku yang menjinjit tembok ini. Ketika bu Siska berdiri aku was-was takut kalau pandangannya ke atas dan melihatku, tapi nafsuku mengalahkan perasaan takutku. Payudara bu Siska montok dengan putingnya yang coklat kehitaman dan lingkar area putingnya pas dengan ukuran payudaranya, pokoknya bentuknya pas dan indah, ibarat mobil dengan velg lebar. Tampilannya luar biasa, cowo mana yang gak ngaceng pasti homo.
Aku mengintip tanpa mengedipkan mata melihat tubuh bu Siska yang aduhai. Dan aku terkejut melihat bu Siska duduk di pinggiran bak mandi, kepalanya menengadah ke atas sambil merem, aku hampir panik kukira dia melihatku. Ternyata bu Siska masturbasi, tangannya masuk ke vaginanya. “Oh damnn…..” dalam hatiku. Hatiku makin kacau, penisku mulai mengeras tanpa sadar.
Mungkin kusadari belakangan memang jarang melihat pak Anto pulang, terutama saat piala dunia berlangsung, sehingga kebutuhan seks bu Siska tidak terpenuhi. Pikiranku semakin kacau seiring libidoku yang memuncak. Akhirnya kuberanikan untuk ke ruang sebelah, “tapi apa alasanku nanti?” Gelisahku dalam hati. Setelah mikir ini itu, aku turun dari bak mandi, ambil handuk keluar kamar mandi, lalu aku terdiam di depan pintu kamar mandi bu Siska, antara ragu dan nafsu menggebu. Lalu aku nekat mengetuk pintu kamar mandi bu Siska. Kutunggu beberapa detik, dia bertanya “siapa ya?”. Aku menjawab, “Tommy bu, aku mau ambil barang yang ketinggalan sebentar”, basa basiku. Mungkin dia bingung, “barang? Barang apa ya?” Tanya bu Siska heran.
aku diam beberapa detik, dan ketika dia membuka sedikit pintu kamar mandi, aku langsung menerobos ke dalam, bu Siska sangat kaget, belum sempat dia bersuara sudah kubekap mulutnya. Tenagaku yang sudah dirasuki setan semakin perkasa rasanya. Bu Siska meronta sambil melotot melihatku. Aku berbisik, “aku liat bu Siska lagi masturbasi kan..”. Tanganku satunya memutar memeluk bu Siska dari belakang. “Ibu jangan teriak, aku sudah rekam bu Siska mandi tadi dari atas” kataku berbohong. Bu Siska kaget dan ketakutan. Kulepas pelan-pelan bekapanku, dan bu Siska berbisik setengah teriak “kamu mau apa!?”. Aku hanya diam dan melihatnya penuh nafsu. Suara air kran kamar mandi itu cukup deras menenggelamkan kegaduhanku di kamar mandi itu. Apalagi penghuni kost yang lain sibuk dengan nonton bola, suara volume tv yang keras ditambah suara kran air ini makin membuatku leluasa untuk bertindak kasar. Bu Siska menutup payudaranya dengan kedua tangan sambil ketakutan melihatku. Tanpa pikir panjang aku pegang badannya dengan kasar kubalikkan ke arah bak mandi, tangannya menahan pinggiran bak mandi. Posisinya membelakangiku, dengan cepat aku menunduk menjilat pantatnya, lalu ke arah vaginanya. Bu Siska sangat panik dan risih, tangan satunya meraih kepalaku seolah ingin menyuruhku berhenti berbuat gila. “Tommy, apa-apaan ini, jangan begini!” Teriaknya, tapi aku tidak perduliii. Kutusuk vaginanya dengan lidahku sehingga bu Siska menggelinjang “ohh.. aduh, stop!”.
Aku benar-benar seperti kesurupan, tidak takut sama sekali dan tidak berpikir panjang, karena aku yakin setan mendukungku.

Bu Siska masih berontak, tapi aku sangat yakin kalau dia akan menerima perlakuanku ini. “Tommy..! Nanti saya bilang suami .. ahhh…” ucapannya belum selesai sudah kusodok lagi vaginanya dengan lidahku. Semakin lama lidahku terasa asin, karena cairan vaginanya sudah keluar. “Bu Siska, aku tau, ibu lagi kepengen kan?.. aku juga bu” kataku dengan penuh nafsu. Kubalikan tubuh bu Siska menghadapku dan kupeluk, lalu kugendong kududukkan dipinggiran bak mandi, tanpa berhenti sedikitpun aku menjilati tubuhnya sebisaku. Dengan posisi ini aku mudah menjilati payudaranya, dan tanpa sadar dia memegang kepalaku menahan posisi menyusui. Mungkin dia tersadar beberapa detik kemudian bahwa kejadian ini tidak boleh terjadi, sehingga dia menolak kepalaku dengan kedua tangannya agar menjauh dari payudaranya. “Ayolah bu Siska, sekali ini aja kita ML, dan jangan cerita siapa-siapa” bujukku. “Sinting kamu..!” Bentaknya. Lalu kupeluk pinggangnya dengan tangan kiri, dan tangan kananku memegang vaginanya, jari tengahku ku colok ke dalam bibir vaginanya. Seketika bu Siska mengeluh agak panjang, “ahhh.. shh”, sambil tangannya mencengkram tanganku. Sementara jariku masih mencolok vaginanya, aku menciumi lehernya, dada atasnya, pundaknya, terus berpindah ciumanku seperti anjing kelaparan.

Kurang lebih sepuluh menit cumbuan paksa ini berlangsung, dengan jariku yang terus menancap di vaginanya. Tidak cuma kusodokkan jariku, tapi jariku menekuk dan memutar-mutar , atau istilahnya ‘ngobel’. Bu Siska menjadi terangsang, tetapi otaknya masih sadar untuk mengendalikan diri, dengan terus berontak. Setelah itu kucabut jariku dari vaginanya, aku memegang kepalanya dengan kedua tanganku, dan kucium paksa bibir seksi bu Siska. Kedua tangannya memegang tanganku untuk melepaskan cengkramanku yang kuat. Aku sudah terlanjur gemas dan nafsu sekali, penisku sudah tegak dan keras, handukku terlepas karenanya, aku tak peduli. Aku masih memegang kepalanya dengan posisi telapak tanganku memegang pipinya, kuciumi lehernya, dagunya, bibirnya. Lalu turun aku memegang pinggangnya, kucium dadanya, perutnya, bu Siska sekarang memegang kepalaku, menahan kepalaku yang liar. Kubalikkan lagi tubuhnya menghadap bak mandi, kedua tangannya memegang pinggiran bak mandi, posisi bu Siska agak membungkuk, gak pake lama langsung kuarahkan penisku ke liang vaginanya. Bu Siska sempat memohon, “jangan Tom.. tolong”. Aku makin gila melihat tubuhnya dari belakang, pinggulnya kecil, pinggangnya membulat, dan pantatnya besarrrr. Ahhh. Mantapp.
Ketika penisku menempel pantatnya, bu Siska menggeserkan pantatnya kanan dan kiri, sehingga penisku pusing rasanya, ibarat mau nendang bola ke gawang, tapi kipernya lincah. Jadi gemes.
Akhirnya kutempelkan saja kepantatnya, kutempel rapat. “Anjingg! Empuk banget bokongnya, enakk” dalam hatiku membatin. Kugesekkan keatas kebawah penisku di belahan pantatnya. Duh rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ini bokong paling kenyal dan besar yang pernah kunikmati.

Perlawanan bu Siska mulai melemah, posisi kini sama-sama berdiri tegak, aku memeluk dari belakang, tangan kiriku memeluk perutnya, tangan kananku meremas kedua payudaranya secara bergantian, sementara penisku masih menempel di pantatnya dan terus kugesek naik turun. Kepala bu Siska tegap menyandar pundakku, aku menciumi kupingnya dari posisi belakang ini, kujilati kupingnya. Tangannya mencengkram tanganku sambil menahan desah, “hmmff.. hmmf”. Kulihat dia mengigit bibir bawah, matanya terus memejam. Dia masih sempatnya berusaha menyadarkanku supaya tidak meneruskan perbuatan ini. Hmm… maaf tidak bisa… tidak bisaa. Lagi enak gini kok disuruh berhenti.. bercanda dia apa…. batinku. Hahahaha.
Aku memeluk dia dari belakang dengan kedua tanganku di perutnya yang agak berlemak, tapi bentuk pinggangnya ramping. Kuciumi lehernya dari belakang, kujilati belakang daun telinganya, lalu aku berbisik, “bu Siska, nunduk dong” sambil kutekan punggungnya mengisyaratkan ‘doggy style’. Bu Siska seperti orang teler, matanya sayu sambil menjawab pelan “aa…?”, dia seperti terhipnotis, nurut saja menunduk, kemudian kakinya melebar memasang posisi bertahan. Segera penisku yang sudah gak sabaran ini kutempelkan di selangkangannya, posisi dari belakang ini paling kusuka. Kugesekkan lagi penisku di pertemuan antara bibir vagina dan pantatnya. Bulu jembutnya tebal tapi halus, cairan penisku sudah banyak keluar membasahi pantatnya sampai mengkilap. Aku kasian dengan penisku yang sudah ngiler dari tadi. Mulai kubenamkan kepala penisku di vaginanya. Seketika bu Siska berbisik “pelan.. Tom.. “. Membuatku tersenyum geli.

Kepala penisku kumasukkan kemudian kukeluarkan, kumasukkan lagi, dan ku keluarkan. Bu Siska agak kegelian, dan mendorong pantatnya ke arahku, seolah tidak sabar menyuruhku untuk berhenti main-main dan segera memasukkan batang penisku. Akhirnya kumasukkan penisku dengan mantap dan perlahan, diiringi suara bu Siska tinggi mengeluh panjang, “ssh, ahhhh…”.
tanpa kesulitan membenamkan penisku di vagina bu Siska yang sudah licin karena cairan vaginanya. Lalu kudiamkan beberapa detik batang penisku tenggelam sepenuhnya di liang vagina bu Siska. Vaginanya sudah tidak rapat, mungkin karena terbiasa dengan penis pak Anto yang lebih besar dari punyaku. Tapi aku merasakan vagina bu Siska berkedut, memijit halus batang penisku, lalu aku tarik keluar perlahan, “mmhhhhh….” suara nada tinggi ngeluhan bu Siska. Kemudian berbalik kusodokkan dengan cepat sampai tubuh bu Siska agak kaget diiringi suaranya yang tertahan, “ohh..”, lalu kutarik perlahan penisku, dan kusodok lagi dengan cepat, terus berulang seperti itu, sampai akhirnya kupercepat iramanya sehingga berbunyi tepukan antara pahaku dan pantatnya yang montok itu. Posisinya kini sudah seperti diatas awan, aku melayang kenikmatan. Kupegang pinggang bu Siska dari belakang ini sangat nikmat sekali sambil aku terus mengayunkan penisku bertubi-tubi. Ahh.. enak sekali doggy style.

Lumayan lama aku bersenggama dengan posisi ini, mungkin sudah lima belas menit atau mungkin lebih, sampai peluh membasahi kami berdua. Kupikir ini gara-gara masih efek mabukku dari dugem sehingga ejakulasiku cukup lama dari biasanya. Semakin lama semakin becek vagina bu Siska, aku tahu dia pasti sudah orgasme beberapa kali. Kurasakan kedua kaki bu Siska mulai gemetaran ketika penisku sangat basah di dalam liang vaginanya. Ya.. pasti dia orgasme… batinku.
Cukup lelah dengan posisi doggy ini, akhirnya aku meminta tukar posisi dengan bu Siska, aku duduk di pinggiran bak mandi, bu Siska tetap membelakangiku, kali ini posisinya seperti sedang memangku bu Siska. Kulihat bu Siska sudah terhanyut oleh zinah ini. Dia sangat menikmati. Kadang dia latah,”ahh.. enak mas..”. Mungkin terbayang ML dengan suaminya, pak Anto. Kedua tangan bu Siska dari tadi agak sibuk mencari posisi untuk menopang tubuhnya supaya bisa mengayunkan vaginanya naik turun melayani penisku. Karena posisiku duduk dipinggir bak mandi dengan kedua tanganku juga menahan dipinggiran bak mandi. Posisi ini memaksa bu Siska berkerja keras untuk kenikmatan bersama.

Ketika kurasakan sudah dekat ejakulasiku, aku meracau tidak karuan, “bu Siska.. terus…ahh.. enak memekmu”. Bu Siska terus berusaha naik turun terus melayani penisku, walaupun sesekali kakinya gemetar saat dia orgasme. Kalau kuhitung mungkin sudah sekitar enam kali dia orgasme. Selangkanganku sampai banjir oleh cairan bu Siska. Aku kemudian memeluk bu Siska dari belakang dengan erat sambil berbisik, “ayo bu Siska… terus … ahh. Enak”. Kubantu menggenjot dengan posisi duduk ini supaya penisku menyodok lebih dalam dan terus. Sambil memeluk dari belakang tanganku meremas kedua payudara bu Siska. “Terus bu Siska… ahh. Enak banget..”. Bu Siska dari tadi berusaha menahan suara kenikmatan karena takut kedengaran orang lain sehingga terus berbisik dan mendesah. Semakin membuatku gila perzinahan ini. Baru kusadari pantatku dari tadi dingin, rupanya bak mandi sudah penuh dengan kran yang terus mengucur. Lantai kamar mandi hampir menggenang. Aku menikmati amat sangat ML ini. Akhirnya beberapa detik sebelum keluar aku berbisik, “mau keluar nih… ahhh. Di dalem aja yah..”. Bu Siska seperti orang yang sedang ‘on’ mabuk, dia hanya bengong bersuara pelan “aa…?” , matanya merem melek. “Boleh ya.. keluarin dalem..” bisikku. Bu Siska seperti hilang kesadaran logikanya, dia hanya mengangguk sambil terus mengayun vaginanya naik turun. Tidak lama kemudian air maniku menyembur deras di dalam liang vagina bu Siska. Saat itu aku berhenti bergoyang, dan memeluk bu Siska dengan erat. Bu Siska pun berhenti mengayun, dia menikmati semburan air maniku di dalam liangnya. Kedua tangannya memegang payudaranya sendiri dan meremas. Setelah beberapa semburan air maniku, bu Siska menggoyang pinggulnya pelan, memutar seperti mengaduk adonan. Ohhh nikmat sekali pelayanan bu Siska…. penisku benar-benar dimanja.

Setelah cooling down beberapa detik, bu Siska berdiri dan terlepaslah penisku yang sudah loyo dari bibir vaginanya, terlihat lendir masih menjuntai seperti keju pizza yang masih panas ketika diangkat. Lalu bu Siska berbalik badan ke arahku, aku berdiri dan memeluk bu Siska, lalu dia mencium keningku. Payudaranya yang kenyal terjepit oleh tubuh kami berdua. Bu Siska mengusap kepala ku sambil mencium pipiku, dan berkata, “lain kali jangan begini lagi ya.. Cukup sekali ini aja”. Lalu dia mengambil peralatan mandi, membungkus handuk dan keluar kamar mandi.
Sempat dia terkaget, “lho ,ini pintu gak dikunci dari tadi?!” Bisiknya padaku. Aku hanya tersenyum nakal. Bu Siska melihatku tanpa ekspresi, lalu dia pergi.

Sumpah, aku lemas sekali saat itu, kehabisan tenaga. Akhirnya aku mandi sebentar dan kemudian tidur sangat pulas. Kuliahku bablas pagi itu.

The NEXT victim
http://127.0.0.1/showthread.php/1067567-Rumah-Kost-no-39-Lusi

Pencarian terkait:

ngintip janda bbw, siska mobile, malam senin nonton bokep, imo bugil, bokep go, bokepdo edisi ngintip, bokep emak2, stw gendut mandi, ramon mobi com, siska mobi com
Uncategorized