Rintihan Derita Masa Lalu Tante Olive

Mungkin Anda pernah membaca kisah mengenai Vivian, gadis keturunan China yang diperkosa saat kerusuhan massal akibat krisis di negera kita tercinta. Baru ku tahu semalam, gadis yang bernama Vivian tak lain adalah tante Olive. Melihat keadaanku sekarang ini, tante Olive banyak bercerita, ia membagikan kisahnya yang perih padaku. Mungkin sekedar mempunyai pengalaman pahit yang sama, aku dan tante Olive menjadi akrab. Hal terburuk yang ia alami adalah sebelum ia berangkat ke Jepang, tepatnya saat negara kita mengalami krisis yang sangat serius, tepatnya saat itu usia tante Olive sekitar delapan belas tahun. Nama asli tante Olive adalah Vivian, karena hal buruk itu lah tante Olive merubah nama dan mencoba hidup baru di Jepang. Tidak hanya tante Olive, banyak gadis-gadis keturunan yang mengalami hal sama, namun kebanyakan coba kabur dari Indonesia, ada yang ke Singapura, Taiwan, Hongkong, Malaysia, dan Jepang. Seperti halnya tante Olive, mereka mencari negara yang lebih aman dan bisa buat mereka untuk memulai kehidupan yang lebih baik. Berikut akan aku ceritakan kembali kisah tante Olive yang mengalami pengalaman buruk seperti aku ini.
Namaku Vivian, umurku sekitar delapan belas tahun, aku adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Adik perempuanku bernama Fenny, umurnya sekitar lima belas tahun, wajahnya cantik seperti aku yang berperawakan oriental, sedangkan adik laki-laki ku bernama Donny, umurnya sekitar dua belas tahun. Kami tinggal bersama orang tua kami di sebuah apartemen, tepatnya di lantai tujuh.
Saat itu hari masih pagi, sekitar jam sembilanan kami mendengar suara gaduh di luar kamar kami. Suara itu adalah suara segerombolan orang yang datang ke apartemen dan mereka berteriak, “Kami mau bunuh orang China!” Aku sudah sadari hal ini akan terjadi, karena sebelumnya aku ada nonton berita yang menyudutkan salah satu suku yang dituduh sebagai penyebab krisis. Entah siapa salah, yang jelas ada beberapa pihak mencoba mengadu domba, kami sebagai kaum minoritas menjadi sasaran yang akan diserang. Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan kepala negera saja tidak berada di ‘kandang’nya. Apa salah kami? Kami bukan orang China, tapi kami juga sah sebagai WNI, kenapa harus kami yang menjadi kambing hitam.
Sentimentil terhadap beberapa suku memang sering terjadi, hingga berujung pada kerugian pihak minoritas. “Kami ingin makan babi!” aku mendengar dengan jelas teriakan itu. Aku tahu mereka menganggap kami adalah sesuatu yang dikatakan haram. Hingga suara dering telepon memecahkan kesunyian kami karena ketakutan. “Hallo?” aku coba angkat telepon itu. “Vi, mereka sudah di lantai dua…” kata temanku, Jessica yang menelepon dari lantai tiga. Mendengar itu aku langsung kaget, mengetahui pergerakan mereka sangat cepat, kami ketakutan dan segera mencari ide.
Kami semua segera keluar dari kamar, dari bawah sana Jessica bersama keluarganya pun berlari menuju ke atas. Kami tidak mungkin lari ke bawah, karena itu sama saja dengan mengantar nyawa. Kami teringat dengan paman Dodi yang tinggal di lantai lima belas, kami segera lari melewati tangga demi tangga.
Pergerakan mereka sangat cepat, mungkin ada puluhan bahkan ratusan massa itu masuk ke apartemen, sebagian melalui tangga dan sebagiannya lagi melalui lift. Kami akhirnya menemukan kamar paman Dodi dan segera masuk untuk bersembunyi. Paman Dodi dan istrinya pun sedang ketakutan. Aku lihat Jessica dan keluarganya masuk ke kamar lain, tempat kenalan mereka.
Dari dalam kamar kami masih mendengar jelas suara gaduh dari luar sana, suara lift terbuka dan suara pintu-pintu didobrak. Kemudian juga terdengar suara wanita dan anak kecil yang berteriak kesakitan. Kami sudah was-was, karena sebentar lagi kamar ini mungkin akan jadi sasaran, aku segera bersembunyi di bawah ranjang, sedangkan yang lainnya ada di balik lemari, toilet, dan di bawah meja. Kemudian kami mendengar suara anak kecil menangis sambil berteriak, “Mama… Ma… Ma… Sakit sekali”. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi pada anak itu, yang jelas ia pasti mendapatkan perlakuan yang menyakitkan.
Sekitar setengah jam berlalu, kami mendengar suara sudah sunyi, tidak terdengar suara lagi. Kami pun tidak begitu takut lagi, kemudian paman Dodi mencoba mengintip keluar kamar, katanya aman untuk kita turun dan kabur dari apartemen ini. Kami semua segera keluar kamar, tapi apa yang kami dapatkan, sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan, kami melihat banyak sekali perempuan yang terbaring di lantai, beberapa masih anak kecil, mungkin suara teriakan yang tadi. Mereka semua dalam keadaan telanjang bulat, daerah kewanitaan mereka berdarah, sepertinya merek diperkosa secara ramai, bahkan anak kecil itu berusia sekitar sepuluh tahun. “Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi?”, ketika melihat apa yang ada di depan mata kami pun mulai menangis. Adik perempuanku Fenny menangis dan dengan erat memeluk papa, aku juga mulai menangis. Suara gaduh kembali terdengar di kamar yang dimasuki Jessica dan keluarganya, mungkin massa sedang berada di dalam sana. Agar dapat kabur, kami harus segera turun ke bawah, secara bersama kami turun tangga, hingga sampai ke lantai sepuluh. Kami kembali mendengar suara teriakan minta tolong, kami bergegas turun untuk melihat. Ternyata apa yang kami lihat adalah empat pria sedang memperkosa seorang perempuan berumur sekitar dua puluh tahun. Kami baru menyadari bahwa kami salah mengambil jalan, kini kami pun berhadapan dengan bahaya, turun ke bawah juga bukan solusi bagi kami. Dengan jantung yang berdegup kencang, kami langsung terburu-buru naik ke atas lagi, tetapi ternyata orang-orang itu sudah menarik dan menahan Fenny, kami mau menolongnya tetapi tidak ada cara. Orang-orang itu ramai sekali, kira-kira sekitar enam puluhan orang, mereka semua membawa senjata, perawakan mereka sangat jahat, hitam dan penuh tatto layaknya preman. Kami tidak bisa melarikan diri lagi ketika massa dari lantai atas menyerbu ke bawah. Mereka membawa kami masuk ke dalam sebuah kamar. Paman Dodi mencoba nenanyakan mereka “Apa yang sebenarnya kalian inginkan?”, tetapi bukan jawaban yang diterimanya melainkan pukulan keras tepat di perutnya. Tidak ada yang menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan paman Dodi, mereka semua sangat bringas, hanya bisa memukul dan melakukan tindak kekerasan.
Aku lihat beberapa orang yang memegangi Fenny hendak melakukan sesuatu, rambut Fenny dijambak, dan salah satu pria brewokan menciumi bibirnya. “Jangan!…”, teriak papa yang tidak tega melihat perlakuan mereka terhadap Fenny. Tapi mereka malah memukuli papa dengan balok kayu yang mereka bawa hingga papa tersungkur jatuh dan akhirnya tak sadarkan diri. Fenny menangis ketakutan sedangkan aku hanya bisa pasrah, beberapa orang yang menangkapku juga mulai meraba tubuhku, aku menangis ketakutan, tubuhku gemetaran. Melihat keadaan kami, mama iku menangis dan kemudian pingsan.
Fenny sudah seperti boneka, tubuhnya lunglai, para pria itu menarik lepas semua pakaian Fenny tanpa perlawanan. Aku juga hampir sama, mereka meraba-raba susu ku dan ada beberapa yang menciumi leherku. Paman Dodi mencoba untuk menawarkan uang tunai kepada mereka, “Saya ada uang di kamar, kalian ambil saja, tapi lepaskan kami…”, bukannya tertarik dengan tawaran paman Dodi, tetapi mereka tidak menghiraukannya, tawaran itu seolah tidak berguna bagi mereka.
Tubuh Fenny yang mungil sudah telanjang bulat, susu nya yang baru tumbuh terus dijamah tangan-tangan kasar pria-pria bejat tersebut. Sekitar vaginanya pun hanya tumbuh bulu halus, para massa entah berteriak apa yang sangat ribut, bukan bahasa Indonesia, itu adalah semacam doa. Kemudian ada sekitar lima orang memperkosa Fenny. Fenny masih terus menangis, massa semakin ramai, ada yang datang dari bawah dan ada yang turun dari lantai atas. Aku yakin temanku Jessica juga sudah mengalami hal serupa.
Kemudian sekitar sembilan orang menarik dan melemparku keluar dari kamar, mungkin maksud mereka adalah untuk berbagi dengan teman mereka di luar sana. Sebelum keluar, aku sempat melihat istri paman Dodi, tante Vera juga ditarik dan dilempar keluar, pakaiannya pun sudah agak berantakan akibat ditarik-tarik. Sedangkan paman Dodi sudah jatuh pingsan karena terus dipukuli.
Aku terus memohon agar dilepaskan, tapi mereka sangat bringas, pakaianku ditarik-tarik hingga sobek. Tante Vera sudah bugil, ia juga terus menangis, namun apa bisa diperbuat, ia sudah dalam cengkraman belasan orang yang kemudian memperkosanya secara bergiliran. Dari luar aku mendengar suara rintihan Fenny, sunggub malang nasib kami. Sekitar kami juga ada beberapa gadis dari kamar lain yang diperkosa pula, bahkan ada yang sudah pingsan terlentang di lantai dengan kondisi yang mengenaskan, ada yang vaginanya masih tertancap tongkat kayu hingga berdarah-darah. Aku pun ketakutan, jantungku berdegup kencang, tubuhku sudah mulai bugil karena pakaianku terus disobek. Dua pria sudah menciumi susu ku bergantian, ada beberapa menciumi leherku, bahkan ada yang menyakitiku dengan menjambak rambutku. Aku kemudian tak sadarkan diri ketika merasakan sebuah benda besar masuk ke dalam vaginaku, karena sebelumnya aku belum pernag melakukan hubungan seks, jadi ini sesuatu yang sangat menyakitiku. Ku lihat pria hitam di depanku memasukkan penis besarnya ke dalam vaginaku, saat genjotan pertama saja aku sudah jatuh pingsan.
Sekitar jam lima sore, ketika aku siuman, di sekitar sudah sepi tanpa kerumunan massa lagi, namub kepala terasa sakit sekali, mungkin karena tadi dipukul dan rambutku dijambak. Tidak ada sehelai benang satupun yang melekat di tubuh ku. Kemudian aku menangis, dan melihat keluarga ku masih ada di dalam kamar. Papa memeluk mama dan adik laki-laki ku, Donny. Sedangkan paman Dodi memeluk istrinya yang bugil dan merintih kesakitan.
Pada hari besoknya, aku pun dibawa ke RS Pluit, papa dan mama berada di samping ku, aku sambil menahan sakit bertanya, “Ma, Fenny mana?”. Aku merasakan sesuatu yang sangat menyedihkan, mama langsung menangis, sepatah kata pun tidak bisa diucapkan, papa menahan air matanya dan tersenyum pahit kepadaku.
Empat hari kemudian, suasana hati ku sudah baikan, papa mengatakan dengan hati-hati kepada ku, pada saat itu, ketika aku pingsan, ada sekitar tujuh orang yang memperkosa ku sambil ditunggu gerombolan lainnya, papa sudah mencoba melawan, tetapi mereka terus memperkosaku. Kemudian, mama dengan hati yang sangat sakit berkata, “Vi, Fenny sudah meninggal…”. Seketika itu juga saya langsung menangis, “Kenapaaaaa??”. Papa tak bisa jawab pertanyaanku itu, dia menyuruhku untuk beristirahat dan dia pun berjalan keluar, aku tidak berhentinya menangis, aku sudah tidak punya harga diri lagi.
Satu minggu telah berlalu, setelah aku keluar dari RS, baru memahami apa yang sudah terjadi. Fenny, waktu diperkosa, terus menerus memberontak, dan orang-orang itu pun terus memukulnya, sampai satu saat Fenny memukul seseorang dari mereka, dan orang itu langsung mengambil sebilah pisau dan menusukkannya ke perut Fenny, tusukan demi tusukan, keluar masuk, sampai akhirnya tubuh Fenny bersimbah darah dan mati. Papa memberitahu ku, paman Dodi juga melihat istrinya sendiri diperkosa, “Ya Tuhan! Mengapa bisa terjadi hal seperti ini?Tuhan ada di mana?Apakah Tuhan masih hidup?”.
Paman Dodi dan tante Vera, sekarang tinggal bersama kami. Aku dan mama saya selalu menangis, karena mimpi buruk ini tak pernah akan bisa saya lupakan sampai mati. Aku sempatkan diri juga untuk menjenguk temanku Jessica yang juga mengalami nasib serupa. Agar aku bisa melupakan kejadian ini, aku pun minta ijin ke orang tua ku untuk pergi merantau ke Jepang. Memulai hidup baru, dan mencoba melupakan kejadian menyakitkan ini, walaupun tak bisa terlupakan.

TAMAT

Pencarian terkait:

tante boyolali, sikwap mother, ramon84china, janda boyolali, sikwap china, bokepdo chines, janda kesepian boyolali, bispak pasar minggu, downlond bokeb, bokep suara berisik
Uncategorized