Pengantin Villa Roubert Van Der Aarkman

PART 1: Missing in the Mountain

Cuaca di siang itu cukup cerah, matahari bersinar terang dan angin tampak bertiup semilir. Ya, cuaca di gunung pada hari itu memang cukup menyenangkan untuk piknik dan tentu saja cocok bagi para muda-mudi untuk bersenang-senang. Namun lain halnya dengan sepasang kekasih yang tampak bertengkar di jalan setapak diatas gunung itu.

?Gimana, sih?! Katanya tadi mobilnya sudah diperiksa! Kok malah mogok di tanjakan?!? gerutu seorang gadis yang memanggul sebuah ransel kemping berwarna jingga dibahunya.
Gadis itu berperawakan sedang dengan tinggi 155 cm. Wajahnya yang manis dengan rambut hitam yang pendek tampak dibasahi oleh peluh yang sesekali disekanya dengan pergelangan tangannya yang putih mulus sementara tubuhnya yang mungil namun padat proporsional tampak tidak berbeda jauh karena keringat yang becucuran disekujur tubuhnya. T-shirt yang dipakai oleh gadis itu sudah basah dan kusut, sementara celana pendeknya yang berwarna abu-abu tampak kumal karena terkena cipratan tanah dan lumpur.
?Melissaa, Jangan marah begitu dong, mau bagaimana lagi? Aku nggak tahu kalau radiatornya bakal kepanasan.? Jawab seorang pemuda yang berjalan sambil menenteng barang bawaan mereka di samping Melissa, gadis beransel jingga itu.
?Gimana aku nggak marah coba? Sekarang sudah jam 4 sore dan kamu tahu kan, sudah berapa lama kita berkeliling disekitar gunung ini? Sudah 2 jam lebih! Kita saja belum ketemu jalan utama lagi!? ujar Melissa kesal.
?Lagipula ini usulnya siapa coba? Katanya: ?Tinggalin saja mobilnya, kita coba cari jalan lewat gunung, sekalian jalan-jalan?? Tapi orang yang mau hikingnya malah nggak bawa kompas atau peta? Konyol deh! Aku juga heran kenapa aku mau saja ikut tadi! Kalau tahu begini, mendingan aku tinggal saja di mobil!? omel Melissa pada Ryan, pemuda yang sedari tadi berusaha meredakan amarahnya itu.

Ryan hanya bisa menghela nafas mendengar omelan Melissa. Memang ini salahnya karena mobil yang ia sewa tidak diperiksanya secara seksama. Terlebih lagi, niatnya untuk menghibur Melissa dengan mengajak gadis itu untuk menikmati panorama alam malah berbalik menjadi malapetaka saat mereka tersesat di gunung itu.
Ryan sebelumnya sempat datang ke gunung itu, karena itulah ia tidak membawa peralatan seperti kompas maupun peta sebab ia sempat menghafal jalan-jalan di gunung itu. Namun kini ia merasa heran karena sudah hampir 3 jam mereka mencari jalan menuju jalan utama, namun yang mereka temui hanyalah jalan setapak yang bercabang-cabang, seolah makin menyesatkan mereka di gunung itu. Kaki Ryan sudah pegal, apalagi dengan beban yang dijinjingnya itu, kian membuat tiap langkahnya terasa menyakitkan.

?Mel, bagaimana kalau kita istirahat dulu?? tanya Ryan.
?Heh? Istirahat? Memangnya kamu kecapekan?? ujar Melissa bingung.
?Iya laah, sudah dari tadi kita mencari jalan kembali tanpa duduk sedikitpun. Staminaku nggak sekuat kamu, Mel!? jawab Ryan. Wajar saja kalau Ryan tidak mampu bersaing dengan stamina Melissa. Melissa yang rajin berolahraga dan bagian dari klub atletik di kampus mereka tentu saja memiliki stamina yang lebih tinggi dari Ryan.
?Kamu harus banyak olahraga tahu, masa baru begini saja sudah capek? Padahal kita sama-sama baru 20 tahun, tapi kamu malah lebih loyo dariku.?
?Iya, iya terserah deh! Sekarang kita boleh istirahat sebentar kan?? tanya Ryan.
?Ya sudah! Kita istirahatnya disebelah sana saja, ya!? ujar Melissa sambil menunjuk sebuah pohon yang rindang tak jauh dari tempat mereka berada.

Melissa dan Ryan pun akhirnya berteduh dibawah pohon itu. Melissa melepas ranselnya dan bersandar dipohon itu untuk mengistirahatkan tubuhnya, sementara Ryan berbaring diatas rerumputan sambil menggunakan barang bawaan mereka sebagai bantal.
?Huuh! Lain kali kalau mau merayakan ulang tahun jadian kita, ajak saja aku ke restoran kenapa? Daripada hiking di gunung dan tersesat seperti ini!? kembali Melissa menggerutu kesal.
?Iya, iya maaf. Kukira kamu suka bertualang, makanya aku ajak ke gunung!?
?Hee? Kenapa kamu kira aku suka bertualang?? tanya Melissa sambil mendelik ke arah Ryan.
?Soalnya kamu itu kan agak…? jawab Ryan dengan sedikit ragu.
?Agak apaa? Hmm?? tanya Melissa dengan tatapan penuh kecurigaan.
?Agak… tom…boy? jawab Ryan pelan.
BRUUK… ?Aduh!!? Ryan mengaduh kesakitan saat ransel jingga milik Melissa melayang kearah wajahnya dan mengenai hidungnya.
?Enak saja! Sudah bikin orang tersesat masih berani bicara begitu!? gerutu Melissa
?Iya, iya maaf. Meel…?
?Huh! Padahal si Linda dan Felicia sering dipuji-puji pacarnya! Aku bukannya dipuji malah dikatain tomboy!? omel Melissa.
?Iya deeh, kamu manis kok!? ujar Ryan menenangkan Melissa.
?Yang beneer?? tanya Melissa sambil mendelik curiga pada Ryan.
?Iyaa, kalau nggak, mana mungkin aku minta kamu jadi pacarku??
?Ya sudah kalau begitu! Aku maafin deh!? jawab Melissa ceria sambil tersenyum pada Ryan. Ryan sedikit terpesona melihat senyum manis kekasihnya itu. Walaupun memang sifat Melissa agak tomboy, namun tidak dipungkiri kalau banyak mahasiswa yang tertarik pada wajah manis Melissa. Ryan termasuk amat beruntung bisa menjadikan Melissa sebagai pacarnya.

?Jadi?? tiba-tiba lamunan Ryan terbuyarkan oleh pertanyaan Melissa.
?A… apa, Mel?? tanya Ryan gagap.
?Bagaimana rencananya sekarang? Ini sudah sore dan sebentar lagi malam. Kamu mau nginap ditengah gunung begini?? tanya Melissa.
?Eh? Oh iya! Kita harus cepat keluar dari gunung ini kalau begitu.?
?Masalahnya, kamu tahu sekarang kita ada dimana nggak, Einstein? Gimana caranya kita keluar dari gunung ini kalau kamu saja bingung kita ada dimana?? sindir Melissa dengan gusar.
?Bagaimana kalau kita tanya ke bapak yang ada disana?? ujar Ryan sambil menunjuk kearah sesosok orang tua yang sedang berjalan memanggul kayu bakar.
?Eh?? Melissa terkejut melihat orang tua itu. Ia tidak menyangka mereka akan bertemu seseorang karena sejak pertama kali menjelajahi gunung itu, mereka tidak bertemu dengan siapapun.
?Ryan! Cepat tanya bapak itu! Sekarang kita ada dimana? Ayo cepat!? seru Melissa setengah panik bercampur girang.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ryan dan Melissa segera berlari mendekati lelaki tua itu. Ryan dan Melissa terhenyak sesaat melihat penampilan pria itu, mereka tampak heran bagaimana pria itu masih mampu memanggul kayu bakar di pundaknya. Lelaki tua itu berbadan kurus dengan kulit yang keriput dan janggut putih yang panjang. Tangannya yang ringkih sedang memegang tongkat kayu untuk menyangga tubuhnya yang tampak gemetaran, sementara ia memanggul sebuah tas kulit berisi beberapa potong kayu bakar yang diikatkan pada bahunya dengan tali rami. Kepalanya tampak ditutupi dengan sebuah caping. Melissa tampak mundur sedikit dan berlindung dibalik tubuh Ryan karena ketakutan melihat penampilan orang tua itu.

?Permisi, Kek. Kami mau minta tolong, bisakah kakek menunjukkan jalan untuk turun dari gunung ini?? tanya Ryan dengan sopan.
?Kalian… mau turun gunung? Anak muda…? tanya orang tua itu terbata-bata.
?Iya Kek. Kami tersesat disini… Bolehkah Kakek membantu kami??
?Boleeh… tapi Nak… lebih baik, kalian tidak… turun gunung dulu, hari ini…?
?Lho, kenapa Kek??
?Kalian… sudah terlalu jauh… jalan menuju ke Batavia… masih 5 jam jalan kaki… dari sini…? ujar orang tua itu.
?Batavia? Maksud Kakek… Jakarta?? tanya Ryan heran.
?Bukaan… Batavia… Apa itu Jakarta, Nak? Ini sudah hampir malam… tidak baik kalau kalian… turun gunung sekarang… berbahaya…? ujar kakek itu.
?Jadi kami harus bagaimana, Kek?? tanya Melissa gusar.
?Aah… begini… kalau mau… kakek bisa mengantar ke desa kakek… mungkin besok kita sampai…? ujar lelaki itu memberi tawaran.
?Besok pagii?? tanya Melissa melongo setengah tidak percaya.
?Iyaah… desa kakek masih jauh… tapi… kalau mau, kalian mungkin… bisa pergi ke… villa Meneer Roubert…? usul orang tua itu.
?Villa Meneer Roubert?? tanya Ryan kebingungan.
?Kalian… bisa menemukan villa itu… sekitar setengah jam berjalan kaki… dari sini… ikutilah jalan itu… nanti kalian… akan sampai…? ujar orang tua itu sambil menunjukkan sebuah jalan setapak dengan telunjuknya yang kurus dan keriput.

?Jadi bagaimana?? gumam Ryan bingung sambil melirik Melissa.
?Ya, mau bagaimana lagi? Lebih baik kita pergi ke Villa itu. Kata kakek ini memang benar, ini sudah hampir malam dan juga berbahaya kalau kita turun gunung waktu malam hari. Lagipula kita sudah pasti nggak bisa pulang hari ini. Untung hari ini hari Jumat, jadi kita nggak ada kelas besok.? Ujar Melissa.
?Kamu yakin??
?Iyaa, memangnya kamu mau jalan turun gunung selama 5 jam waktu malam? Baru jalan 2 jam setengah saja sudah kecapekan.? cibir Melissa. Ryan berpikir sejenak, dan memang hal yang paling masuk akal adalah menginap di villa itu dan turun gunung keesokan harinya, bertepatan dengan weekend.
?Jadi, kami akan bisa sampai di villa itu kalau kami mengikuti jalan setapak itu?? tanya Ryan pada kakek itu.
?Iya… benar Nak…?
?Terima kasih banyak, Kek! Nama kakek siapa?? tanya Ryan sambil menjabat tangan orang tua itu dengan gembira.
?Sapto…? ujar Kakek itu pelan.
?Terima kasih, Kek Sapto! Ini, untuk beli rokok!? ujar Ryan sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar sepuluh ribuan dan menyerahkannya pada Kek Sapto.
?Ini… ini… apa nak?? tanya Kek Sapto kebingungan.
?Sepuluh ribu, Kek! Silahkan, ini uang untuk kakek!?
?Uang? Nak… jangan mempermainkan kakek… nanti kualat…? ujar Kek Sapto dengan nada tinggi.
?Lho? Tapi ini uang asli kek? Kenapa kakek bilang saya mempermainkan Kakek??
?Itu bukan uang…. Ini yang namanya uang…? Ujar Kek Sapto sambil merogoh saku celananya yang butut. Dikeluarkannya tiga keping perunggu. Ryan dan Melissa membelalak sejenak, kepingan perunggu itu adalah koin 1 sen bercap Belanda yang beredar pada zaman penjajahan; disana tertulis jelas tahun cetakan uang itu, masing-masing 1833, 1829 dan 1832.
?Tapi…itu kan uang… Aduh!? Ryan mengaduh saat Melissa mencubit lengannya.
?Sudah! Ngapain sih kamu malah ribut dengan kakek tua pikun! Cepat! Kamu mau keburu malam baru sampai?? bisik Melissa.
?Iya… tapi itu… Argh!? Ryan tidak bisa berdebat lebih lama karena Melissa semakin keras mecubitnya.

?Nah, Kek Sapto, Terima kasih banyak atas bantuannya, maaf pacar saya ini tidak sopan!? ujar Melissa sambil tersenyum. Kek Sapto kembali memasukkan uangnya itu kedalam sakunya.
?Tidak apa-apa… tapi jangan kalian ulangi lagi… mempermainkan orang tua itu tidak baik… Nak…? ujar Kek Sapto.
?Iya, Kek. Kami mohon maaf. Kami akan pergi ke villa itu sekarang. Terima kasih banyak atas bantuannya, Kek!? ujar Melissa melambaikan tangannya sambil menarik Ryan kearah barang bawaan mereka.
?Tapi… Mel…?
?Sudahlah! Kita harus cepat tahu! Masih setengah jam jalan kaki! Ini sudah hampir jam 5! Sudah untung kita bisa bertemu orang disini, kamu malah mau ribut!? bisik Melissa dengan gusar. Ryan pun tidak bisa memprotes Melissa karena yang dikatakan gadis itu memang benar; mereka harus segera sampai di Villa itu sebelum malam.

Ryan dan Melissa pun memunguti barang bawaan mereka dan kembali berangkat untuk mencari villa itu. ?Daah! Hati-hati di jalan ya, Kek Sapto!? seru Melissa sambil melambaikan tangannya pada Kek Sapto.
Kakek tua itu ikut melambaikan tangannya pada Ryan dan Melissa. Ia lalu duduk sejenak diatas sebuah batu berlumut sambil melepas capingnya. Dilihatnya sosok tubuh kedua muda-mudi itu semakin menjauh menuju villa yang ditunjuknya barusan.
?Meisje Cerenia… Anda akan… kembali lagi…? ujarnya sambil tersenyum menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang ompong dan hitam…

Pencarian terkait:

muslihat kakek Dewo 17, muslihat kakek dewo, komik hentai kakek, muslihat kakek dewo 18, bokep tentara jepang, streaming bokep tobrut, janda jablay bdg, stw mantap, bokeep indo, jablay tua ngangkang
Uncategorized