Milan Putra Pertama

Chapter 1 : Hidup Baru, bagian 1.

*Ssuuuttt..buull…

Di teras rumahku, aku sulut sebatang kretek dji sam soe, menghisapnya dalam-dalam serta menghembuskan asap putihnya.

*Sruuuupphh ahhhhh..

Aku cucup secangkir kopi, ah emang enak ngopi dipagi hari.

Oiyah, perkenalkan namaku Milan Putra Pertama.Keren? Pastinya,bhehehe..

Aku anak pertama dan satu-satunya dari sebuah keluarga sederhana. Ibu pedagang kecil-kecilan di pasar, bapak sudah meninggal sejak aku masih duduk di bangku SMP.

Aku selepas lulus SMA tidak kuliah, atau setidaknya belum mengingat kondisi ekonomi keluarga kamu aku memutuskan untuk bantu-bantu ibu di kios pasar dulu.

Dan kini setelah enam bulanan setelah lulus pikiranku cuma satu; udah cukup ibuku membiayai anak semata wayangnya ini, dan sekarang saatnya aku menyenangkan beliau.

Lalu mataku tertuju pada sebuah koran lokal Jogja hari kemaren yang aku pinjam dari tetangga sebelah tergeletak di meja teras.
Aku iseng buka-buka dan membaca sebuah lowongan kerja.

* Di bth kan kary kedai minuman.gaji ok.cowok max 23th.min SMA.penampilan menarik,enerjik.hub 085xxxxxxxxx *

Aku pun segera SMS ke nomor yang tertera dan menanyakan alamat kedai yang dimaksud.
Setelah tau posisi kedai, ku bulatkan niatku untuk melamar kerja di kedai itu, sedikit gambling memang, di terima syukur, enggak juga no problem.

Akupun langsung bergegas mandi lalu dandan serapi mungkin.
Mmmm.., ganteng juga aku, ekekeke..
Setelah itu aku pacu motorku ke bilangan Glagahsari Jogja.
Setelah sampai alamat yang aku tuju, aku liat sebuah ruko dengan tatanan beberapa meja dan kursi didalamnya.
Akupun bergegas masuk.

“Permisi..” ,sapaku.

“Silahkan mas, ada yang bisa kami bantu?” ,seorang cewek mungkin seumuran denganku menjawab dari dalam.

“Mmm.., ini mbak mau lamar kerja, tadi abis baca lowongannya di koran.” ,aku menyampaikan maksud dan tujuanku.

“Ooh.., bentar mas saya panggilkan mbak Dian..” ,cewek itu menjawab singkat lalu bergegas ke ruang dalam.

“Oke mbak, makasih ya..” ,jawabku singkat.

Tak berapa lama, muncullah seorang wanita dari dalam kisaran 24 tahun.
Wow.., sesosok dengan balutan t-shirt ketat dipadu rok jeans diatas lutut dan rambut tergerai sepundak mendatangiku.

“Ohh,ini yang namanya mbak Dian..”,gumamku dalam hati.

“Pagi mbak..” ,sapaku sesopan mungkin.

“Pagi juga, silahkan duduk. Langsung aja yah, bisa aku liat surat lamaranmu?” ,mbak Dian langsung to the point menanyaiku.

Akupun duduk berhadapan dengan mbak Dian dan menyodorkan map yang udah aku siapin dari rumah yang berisi berkas lamaran.
Mbak Dian kemudian membuka map tersebut.

“Hahaha…, ini aja surat lamaranmu?”,mbak Dian tertawa sambil menatapku setelah buka map yang aku sodorkan.

“Ii.., iya mbak.” ,jawabku gugup.

“Hahaha.., fotokopi KTP ama ijasah doang?” ,tanyanya sambil terus terbahak.

Asssuuuu..!

Aku lupa memasukkan surat lamaran yang aku tulis ke dalam map.
Wajahku seketika pucat dan keringat dingin mulai muncul.

“Maa.., maaf mbak, surat lamarannya ketinggalan. Biar aku ambil dulu bentar ke rumah ya..” ,masih dengan tergagap aku mencoba memberi opsi ke mbak Dian.

“Ga perlu. Milan Putra Pertama, 19 tahun. Hmmm.., nama yang unik, penampilan oke, dan masih muda..” Jawabnya sambil membaca biodataku.

“Iya mbak..” ,jawabku singkat.

“Oke.., oke..,” ,mbak Dian menjawab dengan singkat juga sambil manggut-manggut.

Lalu dia memandangku, matanya tajam melihatku seperti memikirkan sesuatu.
Matiihhh.., pasti langsung di tolak.

“Kamu saya terima..” ,dengan tegas dia ngomong ke aku.

“Hah?! Serius mbak?” ,aku menjawab dengan kaget setengah ga percaya.

“Yap, feelling saya kamu bisa jadi pemimpin di kedai ini kelak, tapi dengan syarat kamu niat kerja, jujur, dan mau belajar, nanti biar Nia yang bantu kamu..” ,mbak Dian memberi penjelasan padaku.

“Siap mbak..” ,jawabku bersemangat.

“Oh iya, lupa. Disini gaji ga gede, aku baru bisa kasih gaji awal kamu sebulan 700.000 , aku liat nanti kalo kerjamu bagus aku naikin, gimana?” ,lanjutnya.

Hah?! Dinaikin mbak Dian? Alamaakk.., gimana rasanya seorang mbak Dian bergoyang diatasku dengan kontolku ada di dalam memeknya..
Fyuuuhhhh…, aku buang jauh-jauh pikiran nakalku..

“Ehh.., Iya mbak, ga masalah mbak..” Aku menegaskan.

“Bagus lah kalo gitu, abis ini kamu ngobrol ama Nia ya, biar di jelasin gimana-gimananya, aku cabut dulu ke kampus..” ,mbak Dian berkata padaku.

“Iya mbak, sekali lagi makasih udah dikasih kesempatan..” ,jawabku.

“Milan.., Milan.., baru kali ini ada orang cari kerja se gokil kamu,hahaha. Nii..gue ke kampus dulu, kamu bantu Milan yah” ,mbak Dian setengah berteriak dan bergegas ke mobilnya sambil kembali tertawa.

“Iyaa mbak Dian, titi dije yaahh..” ,sahut mbak yang tadi menyambutku pas dateng dari arah belakang.

Aku hanya tersenyum kecut saat mbak Dian berkata seperti itu.
Setelah mbak Dian berlalu, mbak yang pertama kali menyambutku menghampiriku.

“Hai, aku Milan..” ,aku berdiri dari dudukku dan menyalaminya.

“Aku Nia.., selamat bergabung yah.” ,jawabnya sambil menyambut uluran tanganku.

“Iya mbak.., dibantu yah nanti harus gimana?” ,jawabku.

“Hahaha.., jangan panggil mbak ah, aku masih sepantaran kamu, panggil Nia aja..” ,dia tertawa sambil menjawabku.

“Mmmm.., oke mbak,eh Nia.”,jawabku masih dengan sedikit grogi.

“Nah gitu dong, jadi disini jam kerja jam 15.00 – 23.00 , yah standar lah 8 jam kerja. Tiap hari Minggu libur. Simpel kok disini, cuma sebangsa smoothies, milk tea, kopi, dan makanan ringan. Semua udah ada SOP nya, jadi kita meraciknya tinggal ngikut SOP..” ,Nia mulai menjelaskan padaku tentang pekerjaan disini.

“Ohh gitu..” ,aku manggut-manggut mendengar penjelasan Nia.

“Yapp, sante aja.., kamu pasti bisa, besok aku ajarin semuanya..” ,jawabnya bersemangat.

“Saap! Terus aku mulai masuk kapan nih?” ,aku tak kalah semangat langsung menjawabnya.

“Besok Senin, hari ini emang sengaja libur, aku standby buat nerima lamaran yang masuk..” ,lanjutnya.

“Ooh gitu..” ,jawabku singkat.

“Oh gitu mulu dari tadi, biasa aja kali ga usah grogi, hahaha! Oh iya, di belakang ada dua kamar, yang satu buat mbak Dian, nah yang satunya buat kita besok..” ,melanjutkan penjelasannya.

“Kita?” ,tanyaku.

“Heh! Jangan mikir macem-macem yah. hahaha.., maksudnya kalo kita mau istirahat atau apa, atau mau nginep mungkin kalo kamu mau sekalian jaga malam, hahaha..” ,jawabnya enteng.

“Bhehehe.., bisa aja kamu..” ,aduhh salah tingkah juga aku denger jawabannya.

“Eh, aku buatin minum yah.., mau minum apa? Ga keburu kan?” ,Nia menawariku.

“Gak kok, masih kaget aja langsung di terima disini, Bhehehe..” ,jawabku.

Lalu Nia pun ke belakang meja tempat meracik menu, ngebuatin aku kopi.

“Nih kopinya, aku ke kamar mandi bentar..” ,Nia menyodorkan secangkir kopi padaku dan bergegas meninggalkanku.

“Ikuutt..” ,jawabku menggodanya.

“Nah hloo, baru aja kenal udah mulai nakal. Weeekkk..” ,sambil menjulurkan lidahnya,Nia menjawab sambil berjalan ke kamar mandi.

“Bhehehe..” Aku terkekeh.

Hhhmmm.., dari arah belakang pantatnya yang sekel bergoyang gemulai saat dia jalan.
Duhh..,pikiran nakalku kembali muncul.
Hush..,hush..

Untuk mengusir pikiran mesumku, segera ku cucup kopi buatan Nia.
Ssssrrruppphh..!
Weh, enak juga kopi bikinan Nia.

Tiba-tiba..

*Bluuuugggg!

“Wadaaaauuuuw….!” ,terdengar teriakan Nia dari arah kamar mandi.

“Niii..! Niaa..! kamu kenapa?” ,aku yang kaget segera bergegas berlari ke kamar mandi.

Akupun berlari ke dalam, menuju kamar mandi.
Aku lihat kran yang dikasih selang mengalir keluar bak, dan dia dalam posisi tidur telentang memegangi pantatnya, tak memperdulikan air yang membasahi tubuhnya.

“Bahahahaha.., ngapain kamu tiduran di kamar mandi gitu?” ,aku terbahak melihat posisi Nia.

“Asseeemmm, tiduran mbah mu itu! Pake di ketawain lagi.. Aku kepleset, bantuin berdiri dong..” ,jawab Nia sambil meringis menahan sakit.

“Bhehehe.., iya sinih.” ,jawabku sambil menjulurkan tangaknku membantu dia bangkit.

Aku mematikan kran air lalu aku tarik tangannya membantu dia berdiri.
Sambil tergopoh-gopoh Nia berdiri, dan posisi kami jadi seperti pelukan.
Damn! Toketnya ga sengaja nempel di dadaku..
Pandangan kami bertemu..
Aihhh.., sinetron banget.

“Ehh.., maaf jadi meluk-meluk gini..” ,jawabku gugup dan berusaha melepaskan tubuhnya yg menempel tubuhku.

“Gapapa, makasih yah..” ,jawabnya singkat.

Setelah itu aku baru sadar, tshirt dan celana nya basah kena air.
What the hell..!
Nia ga pake BH, Terlihat bayangan toket dengan puting mungilnya di balik t-shirtnya.
Sepertinya dia belum sadar dengan keadaannya, dia masih meringis kesakitan sambil mengelus-elus pantatnya.
Dia kemudian sadar kalo mataku tertuju ke dadanya.
Buru-buru dia menangkupkan tangannya ke dadanya buat nutupin toketnya.

“Liat apa Lan?” ,dia menyadarkanku yang terpaku matanya menatap toketnya yg membayang dibalik tshirtnya.

“Susu.., ehh.., duhh.., mak.., maksudnya nggg..,it..,itu..” ,jawabku dengan gugup dan sedikit terbata-bata.

“Hahaha.., udah gapapa. Tadi pagi buru-buru, di telpon mbak Dian suruh kesini, jadi ga sempet pake. Makanya dari tadi aku pake jaket kan..”,Nia menjawab dengan enteng.

“Bhehehe..” ,aku tertawa kecil sambil garuk-garuk kepalaku yang gak gatal.

“Udah sana keluar, aku mau lepas baju..” ,dia mengusirku sambil mendorong punggungku agar aku menjauh darinya.

Akupun berjalan kembali ke depan, sambil merenungi kejadian barusan.
Celanaku sedikit menyempit, bhehehe..
Aku sulut rokok dan menunggu si Nia berganti pakaian.
Tak lama terlihat si Nia berjalan dari dalam menuju ke meja tempat meracik menu, spertinya dia bikin minum juga.
Dia sekarang mengenakan jaket yang tadi dipakenya dan bagian bawahnya celana jeans basah.
Aduuhhhh…, deg-degan deh guweh,bhehehe..

“Napa liat-liat? Mikir mesum mesti kan..? ” ,sambil berjalan kearahku menenteng segelas air putih Nia menohokku dengan kalimatnya seakan tau apa yg ada di pikiranku.

“Bhehehe, enggak kok, tapi dikit.” ,jawabku sekenanya.

“Dasar..” ,Nia lalu duduk di seberangku.

“Emang ga bawa baju ganti?” ,tanyaku.

“Biasanya ninggal disini buat jaga-jaga, tahu hari ini libur makanya kemaren aku bawa pulang, eh malah pake acara kepleset..” ,jawabnya.

“Brarti ini dalemnya kosongan ga pake apa-apa dong? Duh..,” ,aku menggodanya.

“Tu kan.., tu kan.., jangan ngarep ya, enak aja! Weekk..!” ,jawabnya jutek.

“Iya-iya, becanda kali, tapi ya tetep aja bikin celana menyempit kalo bayangin isi dalem jaketmu itu..” ,lanjutku menggodanya.

“Iiiih.., Milan! Nyebelin!” ,wajahnya memerah.

Kamipun kemudian larut dalam obrolan seputar kerjaan.
Heran juga, kami bisa cepet akrab gini.

“Milan, bsk kan Minggu. Kita kesini ya.. Beberes meja ama rapi-rapi in ruangan ini. Gimana?” ,dia bertanya padaku.

“Oke, siap 69 bu..!” ,jawabku sambil becanda.

“Hahaha, apaan sih..” ,dia tertawa.

“Kan kamu atasanku disini..” ,timpalku.

“Hahaha, 69 apaan Milan. Kan kan mesumnya keliar.., Gak lahkita sama. Cuma aku lebih dulu. Jadi bsk kita kudu kerjasama team. Kudu kompak. Okey?” , Nia berkata padaku sambil jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O.

“Laksanaken!” ,jawabku tegas.

“Pulang yuk..” ,ajaknya.

“Lah.., ntar kalo ada yang masukin lamaran gimana?” ,tanyaku.

“Ga ada, kan cuma nyantumin nomer hp aja, jadi kalo ada yang nanya tinggal bilang udah dapet karyawan, itu nomerku yang buat ngiklan bukan punya mbak Dian..”

“Oooww..bunder.”

“Milan! Becanda mulu, awas besok ya kalo pas kerja cengengesan!”

“Bhehehe, yaudah yuk pulang..”

“Yuk..”

“Emmm, Ni..”

“Kenapa Milan?”

“Nggg..,anu..,nggg..,toket kamu bagus.”

“MILAN..! NYEBELIN..!”

“Bhehehe..”

Pencarian terkait:

cerita dewasa milan putra pertama, cerita sek milan putra, Milan Putra Pertama part 2, www komik rja hentai, milan putra pertama season 2, kisah seks dewasa milan putra pertama, milan putra pertama, kisah seks milan putra pertama, cerita seks milan putra pertama, cerita milan putra pertama
Uncategorized