Kecelakaan Berbuah Nikmat

Pagi ini, aku bangun sangat pagi. Tak seperti biasanya, pukul 05.00 aku sudah bangun. Bahkan sinar matahari saja masih sangat malu menampakan dirinya di kamarku. Terdiam sejenak, lalu aku duduk, bangun dan berjalan menuju ke depan cermin.
Melihat wajah dan rambutku yang masih terlihat acak-acakan, aku merasa tak peduli. Sejenak ingin sekali meninggalkan segala aktifitas di kampus yang harus kujalani. Namun apa daya, harus aku lakukan mengingat banyak sekali hal-hal yang harus kuselesaikan di kampus.
Sejenak aku lupa bahwa pagi ini kekasihku Sara memintaku untuk menjemputnya di kost dimana dia tinggal. Aku segera mengecek handphoneku, melihat apakah ada notifikasi darinya.
“Sayang, jangan lupa besok jemput aku ya”
“Jam setengah 7 gapapa kok. Aku mau keramas sama catok rambut dulu.”
Pesan yang dia kirim itu aku baca dengan setengah hati. Kubalas singkat “Iya, nanti aku jemput. Siap depan kosan ya hehe” sambil aku berlalu menuju kamar mandi.
Setelah aku mandi dan bersiap, jam masih menunjukkan pukul 06.00. Saatnya aku berangkat menuju kost pacarku. Kuambil motorku dari parkiran, keluar dari gedung kostku, dan berangkat menuju kost Sara. Namun pikiranku daritadi hanya menuju ke tempat tidur. Istirahat. Istirahat. Istirahat. Hanya itu yang ada di pikiranku setelah 1 minggu penuh aku mengurus segala urusanku di kampus. Letih di badanku rasanya tak akan pernah hilang. Sebegitu hilangnya pikiranku tenggelam menuju ke tempat tidurku, sampai…..

BRAK!

Aku menabrak seorang perempuan dengan sepeda motor matic. Aku baru menyadari bahwa aku melenceng dari jalurku dan menabraknya sampai ia terjatuh. Panik, aku yang hanya berdiri miring menahan beban motorku segera membetulkan posisi motorku dan segera turun dari motor. Kulihat dia memegang kakinya, kesakitan. Aku mengangkat motornya dari atas kakinya dan menaruhnya di pinggir jalan.
“Mbak maaf banget mbak. Aku tadi ga konsen.”
Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Wanita yang kutabrak itu hanya terdiam sambil tetap meringis kesakitan. Beberapa orang yang berada disekitar situ datang dan membantu membopong wanita ini menuju ke pinggir jalan. Aku hanya bisa mengikuti sambil terdiam. Kuambil handphoneku dan mengirim pesan pada Sara.
“Sayang aku kemungkinan bakal telat banget jemput kamu, aku nabrak orang di jalan”
Aku langsung menghampiri kerumunan orang dan menyeruak kedalam. Kulihat wanita ini dibantu oleh seorang pria untuk melepaskan helm dan masker dari kepalanya. Tertegun mungkin adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaanku. Wanita ini sangat cantik. Mungkin wanita paling cantik yang pernah aku lihat. Jauh lebih cantik dari pacarku. Saat aku hanya melamun melihatnya, seketika pecahlah lamunanku.
“Mas gimana sih! Naik motor kok bisa gitu ga konsen. Celaka kan. Gimana kalo mas nabrak saya terus saya oleng terus ketabrak mobil atau gimana!” Teriak wanita itu.
“Maaf banget mbak. Saya ngaku salah mbak. Emang saya yang ga konsen”
“Ini gimana kalo kaki saya ada apa-apa! Kalo patah gimana mas?!”
“Saya tanggung jawab kok mbak. Saya akan telpon rumah sakit untuk minta ambulans dan bawa mbak ke rumah sakit”
Namun beruntung bagiku, pengendara mobil yang berada di belakang wanita itu saat aku menabraknya menawarkan diri untuk membawanya ke rumah sakit. Semua orang yang ada disitu pun turut membantu untuk membopong wanita itu menuju ke mobil bapak tersebut. Akupun tak lupa untuk bertukar nomor handphone dengan wanita dan bapak itu untuk meminta kabar dari mereka.
Setelah mereka pergi, aku yang kembali ke motorku melihat kerusakan apa yang aku timbulkan pada motor wanita tersebut. Ternyata, hanya sedikit lecet pada bagian samping. Setelah aku menitipkan motor tersebut di rumah warga terdekat, aku kembali berangkat menuju ke kost Sara.
Sesampainya disana, Sara sudah menunggu di depan dengn wajah yang risau. Melihatku datang, terlihat kelegaan yang sangat di mukanya dan ia langsung datang menghampiriku.
“Sayang kamu gapapa? Aduh kamu kok bisa sih kecelakaan. Terus ada yang luka ga? Kamu nabrak siapa?”
“Aku gapapa. Aku tadi nabrak cewe dijalan. Dia udah dibawa ke rumah sakit. Aku gajadi ke kampus, mau nengokin cewe itu. Kamu gimana jadinya?”
“Aku ikut kamu aja. Pake mobilku aja. Jadi kalo misal nanti ada apa-apa lebih gampang.”
Aku hanya dapat mengangguk. Mengikutinya menuju ke mobilnya, lalu masuk di kursi penumpang. Aku tahu dalam kondisi seperti ini aku tak mungkin berkonsentrasi dalam menyetir. Sara pun tahu, oleh karena itu ia juga langsung menuju ke kursi pengendara.
“Kamu udah tau dibawa kemana itu cewe?”
“Belum, aku nunggu kabar dari dia atau dari si bapak yang bawa.”
Tak sampai 10 menit menunggu, aku menerima kabar dari si bapak kalau wanita itu telah dia bawa ke RS dan dia masih dirawat di UGD. Dengan sangat berterimakasih aku menyudahi telepon dari bapak tersebut dan langsung meminta Sara untuk berangkat menuju rumah sakit.
Sesampainya disana, kami langsung menuju ke ruang UGD dimana wanita itu dirawat. Masuk ke ruangan, terlihat wanita itu duduk diatas tempat tidur rumah sakit. Kakinya terlihat sudah diperban, dan dia terlihat tidak kesakitan seperti tadi saat kecelakaan. Kami menghampirinya,
“Mbak gimana kakinya, gapapa? Maaf ini aku baru aja sampe. Aku ke rumah pacarku ini tadi terus langsung ke sini mbak”
“Iya mas. Gapapa kok kakiku memar aja. Ini udah boleh langsung pulang. Cuma ga bisa kemana-mana”
“Ini semua salah saya mbak. Saya yang tanggung semuanya. Abis ini saya anter mbak pulang. Gapapa kan Sara?”
Sara terlihat sangat iba terhadap wanita ini. “Iya gapapa banget. Rumahnya dimana ya mbak?”
“Deket dari jalan tadi yang kecelakaan kok mbak.”
“Oke, nunggu dokternya ya mbak”
Setelah dokter datang dan memeriksa wanita itu, lalu ia boleh pulang. Aku segera mengurus segala urusan administrasi di RS tersebut. Setelah semuanya selesai, aku dan Sara membantu wanita itu berjalan menuju ke mobil. Kali ini aku harus membawa mobilnya karena Sara bersikeras dia menemani wanita itu duduk di belakang.
Selama di perjalanan kami hanya terdiam. Sebentar aku melihat Sara dan wanita itu melalui spion atas. Sungguh cantik keduanya, walaupun jelas wanita itu jauh lebih cantik. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya.
“Mbak, maaf kalo boleh tau. Namanya siapa ya mbak? Daritadi aku gatau nama mbak siapa.”
“Saya Wulan mas. Mas sendiri siapa namanya?”
“Saya Bram mbak. Sekali lagi, maaf banget ya mbak saya bener-bener ga konsen tadi.”
“Iya, gapapa kok mas. Lain kali, hati-hati aja mas. Untung saya juga ga kenapa-kenapa.”
Ucapan mbak Wulan membuat aku terdiam. Benar katanya. Untung saja dia tidak mengalami luka yang berat. Atau bahkan kematian.
“Mbak Wulan, rumahnya sebelah mana?” tanya Sara padanya.
“Depan itu masuk jalan yang kekanan itu. Nanti rumahku yang pagar hitam di kanan jalan. Nomer 49.”
Segera ku belokan mobil Sara ke jalan yang dimaksud. Rumah yang dimaksud mbak Wulan pun tidak begitu jauh dari jalan yang kami masuki. Segera kuparkirkan mobil di depan, dan aku keluar dari mobil untuk membantu Sara dan mbak Wulan keluar dari mobil. Keluar dari mobil, mbak Wulan berjalan dengan dipapah olehku dan Sara. Sampai didepan pintu rumahnya, dengan dibantu oleh Sara mbak Wulan membuka kunci pintu dan membuka pintu rumah. Kami segera memasuki rumah dan membantu mbak Wulan untuk memasuki kamarnya.
Sesampainya di kamarnya, aku dan Sara membantu mbak Wulan untuk naik keatas tempat tidur untuk merebahkan diri.
“Makasih ya, Bram dan Sara, udah anterin aku kerumah.”
“Iya gapapa kok mbak. Ini semua salahku, jadi aku emang harus tanggung jawab juga. Untung aja Sara mau bantuin aku.” jawabku dengan pelan.
“Ngomong-ngomong, Sara, bisa bantu aku lepas jaket ini ga? Panas banget rasanya pake jaket.”
Sara segera membantu mbak Wulan untuk melepas jaketnya, sedangkan aku hanya berdiri di depan tempat tidur mbak Wulan. Setelah Sara melepas jaket mbak Wulan, aku melihat bahwa mbak Wulan hanya memakai tanktop berwarna putih. Buah dadanya yang cukup besar membuatku terdiam sejenak. Indah, pikirku. Otakku mulai memikirkan hal yang macam-macam, sampai tiba-tiba panggilan Sara membuyarkanku.
“Bram! Itu lho kamu ditanya mbak Wulan malah diem. Gimana sih!”
Kaget, aku melihat mbak Wulan diam menatapku. Lalu bertanya,
“Bram, motorku ada dimana ya? Terus yang rusak apa aja ya?”
“Oh iya! Motor mbak aku titipin rumah warga tadi di depan. Lecet sih mbak. Aku ambilin aja ya motornya sekarang. Kamu nunggu sini gapapa Sara?”
Sara hanya mengangguk. Aku yang masih tersihir dengan pemandangan buah dada mbak Wulan pun segera keluar dari rumah dan berjalan menuju ke depan jalan. Mencari rumah warga yang tadi, aku datang dan mengambil motor mbak Wulan seraya mengucapkan terimakasih.
Setelah aku membawa motor mbak Wulan ke rumahnya, aku pun memasuki rumah dan berjalan menuju ke kamar. Namun, kudengar mbak Wulan dan Sara sedang membicarakan sesuatu di kamar. Aku tidak segera masuk ke kamar, namun berdiri didepan pintu mendengarkan mereka berdua berbincang.
“Mbak, maafin Bram ya mbak. Udah dia nabrak mbak, pake tadi ngeliatin toket mbak lagi.”
“Gapapa kok. Hahahaha. Wajar, namanya juga laki-laki. Emang aku di kantor juga sering diliatin gitu. Makanya aku biasa aja.”
Obrolan yang tiba-tiba menjurus ke arah buah dada mbak Wulan membuatku semakin diam tak bergerak. Aku tahu Sara memang sedikit nakal. Banyak pengalaman “nakal” dengan Sara. Tapi mendengarnya berbicara dengan mbak Wulan, apalagi mengenai buah dada, membuatku menjadi sedikit terbawa suasana. Aku pun semakin tertarik mendengar lebih lanjut obrolan mereka.
“Mbak, ga pake bra gitu, ga takut kendor apa?”
“Ngga kok, ga kendor juga. Pegang aja nih kalo ga percaya” jawab mbak Wulan. Aku semakin nafsu mendengar obrolan mereka berdua. Tak kusangka kejadian ini malah berlanjut ke tahap ini. Aku tetap berdiri diam di depan kamar. Menunggu jawaban Sara. Namun tak ada jawaban. Setelah 2 menit aku menunggu, dan tetap tak ada jawaban, aku penasaran dengan apa yang mereka berdua lakukan. Aku bergeser sedikit lebih dekat dengan pintu dan mengintip mereka di dalam.

Yang aku lihat di dalam kamar membuatku semakin tak percaya.

Mbak Wulan yang duduk diatas kasur, sekarang berada di bawah Sara yang berada di atas mbak Wulan. Sara mencium mbak Wulan, dan mbak Wulan sendiri terlihat menjambak rambut Sara sambil menikmati ciumannya. Aku yang mengintip di luar, tidak menyangka sama sekali kejadian ini terjadi. Namun aku sendiri juga merasakan bahwa aku menikmati adegan yang mereka lakukan sekarang. Ragu, apakah aku tetap akan menunggu diluar, atau masuk dan ikut dalam kegiatan di dalam.

Aku memutuskan untuk pura-pura masuk dan pura-pura kaget melihat mereka. Memantapkan hati, aku pun masuk ke kamar dan pura-pura kaget.
“Sara! Mbak Wulan! Gila ngapain kalian!”
Padahal di bawah sana, “adik” ku sudah berdiri sangat tegak. Ingin keluar dari sarang.
“Ah Bram! Kamu nih ganggu aja. Sini kamu! Mesti dihukum nih udah bikin aku celaka!” jawab mbak Wulan.
Sara pun melepaskan ciuman dari mbak Wulan, dan turun dari tempat tidur. Berjalan melewatiku, dan menutup pintu kamar. Menguncinya, lalu berjalan balik ke depanku.
“Kamu, harus dihukum. Sana, kamu minta ampun sama mbak Wulan.”
Aku yang masih belum bisa mengatasi kekagetanku mendekat menuju mbak Wulan. Aku duduk di sampingnya, namun tak mampu melakukan apapun. Wajah mbak Wulan sangat cantik. Mampu menyihir diriku hingga tak mampu berkata apapun.
“Sini kamu, kamu harus jilatin toket saya. Saya belum bilang kelar, kamu ga boleh kelar. Ngerti?” Perintah mbak Wulan.
Aku hanya mengangguk, lalu tanganku otomatis menyibakkan tali tanktop dibahunya. Terpampanglah sepasang buah dada yang sangat indah. Dengan ukuran yang tidak begitu besar, puting kecoklatan, dan kulitnya yang putih, aku hanya bisa diam menikmati keindahannya. Kemudian tiba-tiba mbak Wulan menarik rambutku dan mengarahkan kepalaku ke arah buah dadanya. Aku pun langsung menjilati buah dada mbak Wulan dengan ganas. Tak satupun bagian yang tidak aku ciumi, jilat atau aku hisap.
“Aaaaah.. Terus Bram….. Enak…. Shit jilat pentil aku sayang!” desah mbak Wulan dengan suara parau. Akupun terus melanjutkan hisapanku pada putingnya ketika aku merasakan Sara membuka celanaku dari belakang dan langsung menarik celana beserta underwearku ke bawah. Aku merasakan mulut Sara yang langsung mengulum penisku. Oh, sungguh nikmat rasanya. Sara memang sangat lihai dalam mengulum penisku. Aku sangat menikmatinya sampai hisapanku ke puting mbak Wulan menjadi agak terganggu.
Dengan sengaja, mbak Wulan menjambak rambutku dengan keras.
“Siapa bilang suruh berhenti! Terus isep pentil aku! Siapa suruh kamu masuk tadi!”
Jambakan mbak Wulan membuatku tersadar, dan aku kembali menghisap putingnya. Aku ingin sekali melihat ekspresi Sara dalam mengulum penisku, namun jambakan mbak Wulan membuatku hanya bisa menatap payudaranya saja.
“Oh fuck! Terus Bram! Mainin pentil aku yang ini juga……. Oh shit enak banget… Aaaaaaah fuck you Bram! Fuck you!” desah mbak Wulan dengan suara parau. Terlihat mbak Wulan sangat menikmati jilatan dan permainan tanganku pada payudaranya.
Kulihat tangan mbak Wulan menuju ke arah selangkangannya. Lalu ia memasukan tangannya ke dalam celananya. Dia masturbasi!
“Ah shit Bram terus! Fuck me hard Bram! Fuck me like i’m your bitch baby! Oooh yeah! Aaaaah fuck!”
Desahan mbak Wulan membuatku semakin bernafsu. Ditambah dengan jilatan dan kuluman Sara pada penisku, membuatku semakin tak tahan. Aku yang akan orgasme menahan kepala Sara untuk menghentikan kulumannya pada penisku. Mbak Wulan sendiri juga melepaskan jambakannya pada rambutku.
“Okay, stop Bram. Now do me a favor. Aku ga bisa have sex sekarang. Kakiku sakit. Aku mau liat kalian berdua have sex, di depanku. Sekarang”. Perintah mbak Wulan disambut dengan gembira olehku dan Sara. Aku melihat Sara masih bertumpu pada lututnya di bawah, sambil memegang penisku.
“Yuk sayang, kita lakuin perintahnya mbak Wulan. Nanggung nih aku juga belum enak” kata Sara. Sara pun berdiri dan pindah dari samping tempat tidur ke depan tempat tidur dimana mbak Wulan duduk diatasnya. Kemudian dia memposisikan dirinya menungging, dengan tetap menghadap ke mbak Sara.
“Entotin aku Bram. Please. Sekarang”
Aku yang tak tahan pun langsung mendatangi Sara. Namun aku tak langsung menyetubuhinya, tapi menarik rambutnya dan langsung mencium bibirnya. Kami berciuman dengan liar, hisapan dan ciuman pada bibir dan lidah kami membuat suara yang cukup keras. Sambil mencium Sara, aku memegang payudaranya. Sedikit lebih besar dari milik mbak Wulan. Aku meremas payudaranya sambil tetap menciumnya. Sara mendesah dengan tertahan sambil tetap menciumku. Lalu kemudian, aku melepas ciumanku pada Sara dan langsung membuka T-Shirt yang Sara kenakan. Terlihat bra berwarna hitam yang ia kenakan membuat payudaranya semakin membusung. Tak sampai disitu, aku pun membuka kancing jeans yang dia kenakan, dan langsung aku tarik kebawah dengan underwear hitam yang dia kenakan.
“Uh nakal ya kalian berdua. Udah sering ya?” Tanya mbak Wulan yang asik menonton aku dan Sara. Sara yang hanya mengangguk pun aku kagetkan dengan mendorong badannya kedepan agar posisinya menungging.
“Mbak Wulan nikmatin aja pertunjukannya. Ga akan kecewa kok” kataku pada mbak Wulan.
Vagina Sara yang merekah akibat posisinya menunggingnya ini membuatku semakin tak tahan. Aku membuka kemeja yang aku kenakan, hingga aku bertelanjang bulat. Kemudian tanganku segera kuposisikan ke arah clitoris Sara.
“Aaaaaaaaah fuck sayang kamu cowo sialan! Aaaaaah fuck terus honey! Sshhhhh ahhhhh…… Fuck me!” desah Sara. Aku terus mengerjai vagina Sara, sampai 5 menit,
“I’m cumming hun! Aaaaaaaaaahhhhhhh!” Sara mengalami orgasmenya yang pertama. Tanpa menunggu gelombang orgasme yang belum berhenti, aku langsung memasukkan penisku ke dalam vaginanya.
“Braaaaaam! Aaaaaah fuck pelan sayang aaaaah! Shit ooooh aaaaah enak banget sayang………..”
Tanpa ampun aku terus menggenjot penisku di dalam vagina Sara. Kulihat di depanku mbak Wulan pun semakin liar dengan kocokan jarinya di vaginanya. Satu tangannya memainkan putingnya. Memeluntir dan mencubit putingnya. Membuat semakin bernafsu.
“Aaah Braaaam! Terus sayang! Aaaah aaaaaaahhhh ohhhhhh fuck me harder! Aaaaahhhhhh!” teriak Sara kepadaku. Sara sendiri sekarang mencengkeram seprai tempat tidur mbak Wulan sambil berteriak karena kenikmatan di vaginanya.
Aku yang tak tahan melihat kedua wanita cantin di depanku pun juga tak tahan untuk segera mengalami orgasme.
“Sayang, aku mau keluar! Ahhh fuck sayang enak banget memek kamu!”
“Aku juga…… Aaaaaahhhhhhhhh fuck…… I’m cumming again hun!” Teriak Sara.
“Kalian berdua hot banget….. Ahhhhhh aku suka liat live sex gini…….. Aku juga bentar lagi keluar nih……… Aaaaaaaahhhhhhhhhhh!” Teriak mbak Wulan. Sepertinya dia sudah mengalami orgasme. Aku yang tak tahan juga berteriak,
“Sara aku mau keluar! Aaaaaahhhhhhh memek kamu sempit banget! Aaahhhhhhhh!”
“Aku juga keluar sayang! Aaahhhhhhhhh”
Aku tak tahan. Spermaku menyembur keluar kedalam vagina Sara, dan aku juga merasakan kedutan pada vagina Sara dan cairan hangat di dalam. Aku tetap mendiamkan penisku sesaat di dalam vagina Sara, kemudian perlahan aku keluarkan penisku dari dalam vagina Sara. Terlihat lelehan sperma dan cairan vagina Sara keluar dari vaginanya. Sungguh pemandangan yang indah. Melihat Sara dan mbak Wulan didepanku. Berkeringat karena “pesta” kecil yang dimulai dari kecelakaan.

“Next time, kita harus lakuin kayak gini lagi ya. Tunggu kakiku sembuh. Aku bakal puasin kamu juga, Bram!” senyum mbak Wulan sambil mengedipkan matanya padaku.

Pencarian terkait:

hijab milf, digilir keluarga suami, milf hijab, SSI Jilboobs Di Kaki Gunung Perahu Tengkurep NO SARA Amp On Going, fuck janda, semprot no sara, tempik mbak, bokep klimaks, jilbab cif pejuh, ngentotin milf
Uncategorized