Guilty Pleasure

Perkenalkan nama saya Sella. Saya adalah mahasiswi tingkat akhir di perguruan tinggi negeri yang cukup ternama di negeri ini. Saya menghabiskan dua puluh tahun hidup saya untuk belajar sehingga saya tidak terlalu memedulikan kebutuhan seks saya dan tak kunjung memiliki pasangan meskipun tak sedikit lelaki yang mendekati saya. Sejujurnya saya tak terlalu membanggakan tubuh saya. Saya merasa dengan tinggi badan saya yang 170cm dengan berat 60kg ini bukanlah postur impian. Namun banyak orang yang mengatakan bahwa saya menyenangkan untuk dilihat karena berwajah bersih manis berkacamata berkulit kuning langsat dengan badan yang tak terlalu kurus dan tak terlalu gemuk namun memiliki ukuran dada dan pantat yang ranum, kencang, padat berisi. Ya, memang saya rajin melakukan perawatan untuk tubuh dan dada saya yang berukuran 36C ini.

Namun, keluguan saya tentang seks ini berakhir pada ulang tahun saya yang ke dua puluh satu. Kejadiannya sekitar awal tahun ini. Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena ini akan menjadi kisah yang sangat panjang. Saat ini saya berkuliah di kota yang berbeda dengan kota asal saya. Ketika saya awal masuk kuliah, sekitar tiga tahun lalu, saya masih belum punya teman dan saya selalu minta ditemani oleh kakak kelas SMA saya dulu yang sekarang juga melanjutkan kuliah di kota yang sama. Hubungan persahabatan kami sangat dekat hingga keluarga kami mengetahui satu sama lain dan sangat akrab. Hingga akhirnya pada tahun lalu kami memutuskan untuk menyewa apartemen yang sama agar iuran bulanan menjadi lebih murah. Kakak kelas saya ini bernama Ari. Pada tahun pertama kami tinggal satu atap ini tak pernah terjadi kejadian apapun. Kami juga tak pernah membawa hubungan kami lebih jauh dari hanya sekedar sahabat. Meskipun kami berdua sama-sama tak punya pasangan, dan saya setiap hari memasak untuk Mas Ari dan menyiapkan pakaian dan kebutuhannya, dan Mas Ari juga setiap hari mengantar jemput dan menjaga saya. Namun saya tak pernah memikirkan hal-hal yang berhubungan ke arah seks. Mas Ari yang padadasarnya seseorang yang santun juga pada awalnya tak pernah memancing saya untuk membicarakan perihal seks.

Hingga pada ulang tahun saya yang ke dua puluh satu itu, tiba-tiba Mas Ari meminta untuk tidur di kasur saya. Pada awalnya tentu saya keberatan, lalu Mas Ari merayu dengan berbagai macam alasan dan akhirnya saya menyetujuinya namun harus ada guling di tengah kami sebagai pembatas. Satu minggu telah berlalu sejak ulang tahun saya dan Mas Ari masih tetap tidur satu kasur dengan saya tanpa terjadi apapun. Saya mulai merasa nyaman dan aman ketika tidur berdampingan dengan Mas Ari hingga akhirnya saya mau untuk tidak menggunakan guling sebagai pembatas. Malam ketika tidur kami mulai tidak dipisahkan oleh guling pembatas, Mas Ari mulai memeluk saya pelan-pelan dari belakang ketika saya sedang tertidur, saya langsung tersadar dan seketika itu pula saya marah kepadanya.

Saya: “NGAPAIN SIH KAMU???”
Ari: “Kenapa? Kalo ada tanganku di sini sama engga emang apa bedanya?”, jawabnya dengan tenang
Saya: “YA MANA KUTAHU! GESER SANA DEH!!!”
Ari: “Ya kalo gatau makanya dicoba dulu ya, semalem aja.”, lalu ia memeluk semakin erat

Timing yang diambil oleh Mas Ari benar-benar pas, saya yang masih sangat mengantuk itu akhirnya pasrah saja dipeluk dengan erat oleh sahabat saya itu. Kemudian saya mencoba untuk tidur kembali, namun lima belas menit kemudian saya tersadar lagi karena hembusan nafas Mas Ari yang terasa lembut di tengkuk saya. Tiba-tiba jantung saya berdegup lebih kencang dari biasanya dan saya merasa mulai menikmati pelukannya.

Keesokan harinya, Mas Ari tidur sambil memeluk saya lagi dan saya tak keberatan. Di tengah tidur saya, saya tersadar ketika tangan Mas Ari mulai meraba naik ke payudara saya. Kali ini saya tidak melawan karena saya merasakan sensasi aneh namun nikmat yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Saya membiarkan tangan Mas Ari bergerilya di dalam bra berukuran 36C saya. Pada awalnya ia mengusap dengan lembut, lalu memberikan remasan remasan pelan, dan bermain-main di puting saya. Jujur saya sangat menikmatinya, saya merasakan puting saya mengeras, tubuh saya terasa panas, dan entah mengapa bibir vagina saya terasa bergetar ketika Mas Ari melakukan hal itu. Sekuat tenaga saya menahan diri untuk tidak mengeluarkan desahan-desahan karena saya tak ingin Mas Ari tahu bahwa saya sedang terbangun dan menikmati kelincahan tangannya.

Hampir setiap malam selama satu bulan saya mengalami hal itu namun saya masih belum berani untuk mengaku bahwa saya selama ini tidak tidur dan menikmatinya. Setiap pagi kami berdua bertingkah seperti biasa tanpa terjadi apa-apa. Hingga pada bulan berikutnya saya mulai berani untuk tidur menghadapnya dan tidak membelakanginya. Itu kali pertama dia memeluk dari depan dan saya sudah merasa nyaman untuk memeluknya juga. Kami tidur berhadapan dengan tempo nafas yang sama dan jarak muka saya dengan Mas Ari tidak sampai lima sentimeter. Hingga tanpa saya duga Mas Ari mencium bibir saya. Seketika saya terbangun dengan kaget. Namun kali ini saya tidak marah dan hanya berkata agar ia tak melakukan french kiss. Mas Ari yang mendapat sinyal positif hanya tersenyum dan lanjut menciumi bibir, pipi, leher, tengkuk, dan sebagian atas dada saya yang terbuka karena baju tidur saya yang longgar.

Tubuh saya bergetar hebat ketika Mas Ari mulai menjilat, menyedot, dan sedikit menggigit dengan lembut bagian atas dada saya. Sensasinya benar-benar berbeda dibandingkan dengan hanya remasan tangan. Nafas kami menderu bersahutan hingga tanpa saya sadari saya mulai melenguh keenakan, ummh aahh ummh uggh kenikmatannya membuat saya sadar bahwa ada sedikit cairan yang keluar dari vagina saya. Reflek tangan saya memegang daerah kewanitaan saya untuk mengeceknya dan ternyata Mas Ari menyadari hal itu. Ketika mulutnya semakin brutal menciumi dada saya karena sepertinya libidonya semakin meninggi akibat desahan saya, tangan kanannya meraba daerah pangkal paha saya dengan lembut, lalu Ia mengusap-usap, meremas-remas, dan beberapa kali Ia sapukan secara cepat pada vagina saya sepertinya agar saya menganggap bahwa itu tidak sengaja padahal saya seratus persen yakin bahwa Ia sengaja mencuri-curi kesempatan untuk menempelkan tangannya pada vagina saya yang basah, rapat, baru dicukur, dan masih perawan itu. Namun saya menyayangkan malam ini Mas Ari hanya menciumi bagian atas dada saya tanpa berani masuk ke dalam bra saya seperti biasanya. Mungkin karena malam itu kali pertama Mas Ari melakukan aksinya saat mengetahui bahwa saya tidak tidur.

Kejadian seperti itu terjadi hampir setiap minggu dalam beberapa bulan tanpa ada perkembangan yang berarti. Beberapa bulan kemudian, Mas Ari harus pulang ke kota asal kami selama satu minggu. Saya benar-benar kesepian dan merindukan aktivitas malam kami. Hingga ketika Mas Ari kembali, saya berinisiatif untuk menggodanya.

Saya: “Mas, kenapa pulangnya cuma seminggu sih? Kurang lama tau!”
Mas Ari: “Ah kurang lama apa kelamaan hayo? Mukanya udah kangen gitu.”
Saya: “Yee kangen sih kangen, tapi aku kan baru seminggu bobo ga pake bra, udah beberapa bulan ini gara-gara kamu invasi kasurku aku jadi bobonya harus pake bra terus. Ga enak tau!”
Mas Ari: “Emang siapa yang ngeharusin pake bra? Toh hidup kita udah gaada boundary gini.”, jawabnya dengan cara bicara yang jadi sedikit awkward dan mukanya yang sedikit memerah
Saya: “Ah gatau deh pokoknya nanti malam aku gamau pake bra. Gaakan ada efeknya ke kamu kan ya?”
Mas Ari: “Iya iyaaaaa.”

Pada malam itu saya benar-benar tidur bersamanya tanpa menggunakan bra. Saya sengaja menggunakan baju tidur putih tipis dengan celana terpendek yang saya miliki. Ketika Mas Ari masuk ke kamar saya, saya menyadari perubahan raut wajahnya, Ia tersenyum dan seketika itu juga tanpa saya duga langsung menindih tubuh saya. Saya merasakan batang kejantanannya yang tegak dan mengeras itu menempel pada sisi luar celana tepat pada vagina saya. Payudara saya yang menonjol kencang dengan puting mengeras yang menyembul bergerak naik turun menempel pada dada Mas Ari seiring dengan ciuman Mas Ari yang membabi buta dari leher, pipi, dan dahi secara tidak terkontrol. Nafasnya memburu seperti hendak menerkam saya. Beberapa puluh detik saya terpatung diam membisu karena saya benar-benar terkejut atas reaksinya. Lalu tidak sampai satu menit kemudian saya berteriak dan mendorongnya ke luar kasur.

Sepertinya Mas Ari juga terkejut atas reaksi penolakan saya. Ia tak henti-hentinya meminta maaf meskipun kami menyadari tubuh kami berdua bergetar hebat dan wajah kami memerah serta tubuh kami memanas. Saya benar-benar merasa bersalah dan tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya saya memutuskan untuk tidur sambil memeluknya dalam keadaan libido kami berdua masih sama-sama tinggi. Tanpa saya duga, setengah jam kemudian, ketika Mas Ari memastikan saya sudah benar-benar tidur (padahal jelas belum) Mas Ari mengarahkan tangan saya yang memeluknya ke arah penisnya yang sangat tegang. Ia mengarahkan tangan saya untuk menggenggam penisnya dan mengocoknya mulai dari kecepatan pelan, cepat, sangat cepat hingga terdengar bunyi plok plok plok, lalu ia semakin menambah kecepatan hingga kasur kami bergoyang, kemudian kembali ke kecepatan pelan. Aksi mengocok ini diulang beberapa kali dalam kondisi saya masih pura-pura tidur.

Kemudian tiba-tiba Mas Ari melepaskan tangan saya dan Ia berbalik menghadap saya. Saya tetap berusaha memejamkan mata kemudian saya merasakan sentuhan lembut tangan Mas Ari pada puting saya yang mengeras. Ia memilin-milin, meremas remas, membuka kaus saya, menciumi, dan terakhir Ia meletakkan penisnya di antara bukit payudara saya sambil mengocoknya sendiri. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan, saya merasa sangat bersalah sudah mengacaukan kegiatan awal tadi. Saya sangat menikmati apa yang Mas Ari lakukan terhadap payudara saya. Beberapa kali karena tak kuat menahan nikmatnya saya mendesah uhh ahhh mmhh aww ketika Mas Ari menggigit puting saya. Namun dalam keadaan saya masih memejamkan mata. Kemudian Mas Ari bergerilya ke bawah. Ia mulai mengusap-usap paha saya, menjilatinya, kemudian Ia membuka celana saya dan memasukkan tangannya dan meremas-remas pantat saya yang kencang dan halus. Beberapa kali ia menepuknya dan kembali meremas lalu mengelus-elusnya. Sesaat kemudian Ia bergerak ke depan dan mengelus-elus vagina saya yang sudah sangat basah.

Saat itu saya benar-benar berharap Mas Ari memasukkan penisnya yang keras tegang dan panjang itu ke dalam lubang vagina saya yang bergetar, geli, basah, dan berdenyut kencang itu. Namun harapan hanyalah tinggal harapan. Mas Ari hanya mengelus vagina saya dari luar underwear saya dengan penisnya lalu menyudahi aksinya dengan menyemprotkan cairan spermanya ke payudara dan beberapa bagian tubuh saya. Lalu Ia mencium bibir dan kening saya kemudian memeluk saya dan kami berdua tidur dengan luapan emosi, nafsu, dan basuhan peju baik dari penisnya maupun dari vagina saya yang membasahi hampir seluruh kasur.

Hingga saat ini, hubungan kami masih belum lebih dari sekedar sahabat, dan rutinitas malam kami masih rutin kami lakukan. Entah saya harus senang atau sedih karena lubang vagina saya makin sering basah namun masih belum terjamah.

Mohon maaf karena hanya sebatas ini. Kalau ada perkembangan selanjutnya mengenai hubungan dan petualangan kami pasti akan saya tuliskan lagi di sini. Masukan dan usulan dari para maestro sangat saya harapkan. Terima kasih.

Pencarian terkait:

Petualangan ari, cerita dewasa petualangan ari, cerita seks petualangan ari, petualangan ari part 2, petualangan ari 2, cerita petualangan ari, chating ngentot, cerita dewasa petualangan ari part 2, petualang si ari, cerita ngentot petualangan ari
Uncategorized